Skip to main content
TravelNimble

follow us

Perjalanan Guangzhou ke Guilin (Day 5 of 141 on the road)

Niatnya sih bangun pagi, mau jogging di dekat Pearl River tapi cuaca yang mendung mengurungkan niatku. Akhirnya malah malas-malasan di kasur. Sekitar setengah jam 12 saya berangkat ke Guangzhou South station dengan metro. Kereta saya ke Guilin berangkat pukul 13.18, jadi saya asumsikan saya masih punya waktu yang cukup sampai di stasiun kereta, apalagi tiket sudah saya beli, tinggal di print saja.

Jarak dari hostel Lazy Gaga ke stasiun cuma sekitar 20 menit. Tapi tidak selalu perkiraan kita benar. Saya sedikit tersesat menemukan area keberangkatan yang sesuai dengan jenis kereta yang saya booking dan juga miskomunikasi dengan customer service dan petugas di station sehingga saya terpaksa reschedule jadwal kereta ke Guilin. Untungnya tidak ada biaya tambahan walaupun sudah terlambat.

Karena drama pembelian tiket di stasiun Guangzhou ini, terpaksa saya harus menunggu sekitar 2 jam lebih di stasiun, nikmati saja. Setelah urusan tiket kereta kelar, saya baru sadar bahwa banyak pasang mata mengarah kearahku. Mungkinkah karena tampang saya yang asing? Atau karena backpack saya? Memang sih saya belum menemukan traveler atau orang local dengan backpack besar di punggung mereka. Tapi aku percaya mereka sepertinya kagum denganku (lebih baik ge-er). Sepertinya mereka berpikir "ini perempuan, badannya kecil tapi gendong tas sebesar tubuhnya". So what? Tiap mereka memandangku, aku balas dengan senyuman yang manis.

Tak ada kursi di ruang tunggu. Penumpang memanfaatkan travel bag sebagai kursi atau ngemper di lantai. Tentunya saya memilih ngemper,ya memang tidak ada pilihan sih. Kalau di Indonesia penumpang bisa menunggu kereta di peron, tapi kalau disini kita tidak bisa ke platform sebelum kereta mendekati stasiun. Perhatian no kereta dan platform saat akan mengantri di gate untuk menuju platform, agar tidak salah masuk platform. Biasanya setengah jam sebelumnya para penumpang sudah mulai mengantri, mungkin agar tidak telat.

Nomor kereta saya sudah muncul di layar gate dan orang-orang pun mulai mengantri. Sebenarnya masih sekitar dua puluh menit lagi. Tak ingin terburu-buru mencari kereta, nomor gerbong dan seat, saya pun ikut mengantri. Anehnya banyak orang hanya berdiri di kiri-kanan antrian, di dekat gate untuk scan tiket. Tertanya oh ternyata, begitu gate dibuka, mereka nyelip antrian. Dan hebatnya orang-orang yang sudah mengantri tidak keberatan sama sekali saat mereka nyelip. Mungkin sudah biasa kali ya.

Saya tidak menemukan kesulitan sama sekali untuk menemukan gerbong kereta dan nomor seat saya. Jenis kereta saya ini adalah kereta cepat, dengan lama perjalanan sekitar 2,5 jam. Harga tiket 2nd class yang saya bayarkan CNY 184, termasuk didalamnya booking fee CNY 20. Kelas dua ini terdiri dari 5 seat dalam 1 row, sayangnya tidak di setiap seat ada power outletnya, jadi untung-untungan. Di setiap gerbong terdapat layar informasi tentang kecepatan kereta, next station dan current station jadi tak perlu kuatir turun di stasiun yang salah.

Setengah jam sebelum kereta sampai di Guilin, pemandangan di luar kaca jendela kereta sangat menakjubkan. Semburat jingga matahari yang akan terbenam menyinari perkampungan yang berada di tengah-tengah bukit karst. Indah sekali. Tiba-tiba ada pengumuman. "We will soon arrive at Yangshou station". Yangshou? Kereta saya ini ternyata melalui Yangshuo, berbeda dengan kereta yang awalnya saya booking. Turun tidak, turun tidak, pilihan ini berkecampuk dipikiran saya bahkan sampai kereta berhenti di station. Penumpang yang turun di Yangshou stasiun sudah bersiap-siap turun, sementara pikiran saya masih berkecambuk. Perlahan-lahan kereta meninggalkan stasiun dan saya masih duduk di dalam kereta. Alam telah memutuskan untukku.

Setengah jam kemudian, saya sampai di Guilin West Station. Untuk menuju Ease Hostel saya naik bus no 22. Begitu keluar dari stasiun, kita bisa langsung mencari bus sesuai dengan tujuan kita, karena di luar station ini tampak seperti terminal kecil. Perjalanan sekitar 50-70 menit, dengan biaya CNY 2, saya bayar cash.

Begitu duduk dan bus berjalan, saya langsung membuka googlemaps tapi tidak berfungsi. Saya coba berganti-ganti VPN, tetap tidak bisa. Pasrah, saya buka baidu map yang hanya tersedia bahasa Mandarin. Pastinya map bisa digunakan hanya saja tidak ada informasi mengenai bus stop-nya, sehingga sulit untuk tahu kapan harus menekan stop button. Saya mencoba berinteraksi dengan penumpang di kiri kanan saya dengan mengunakan bahasa inggris campur bahasa isyarat sambil menunjuk-nunjuk maps, tapi mereka menggeleng. Ya sudahlah, akhirnya saya gambling. Saya akan tekan stop button ketika posisi bus di maps sudah dekat dengan hostel, kalaupun saya salah turun, pilihannya jalan kaki, semoga saja tidak terlalu jauh.

Mendekati posisi Ease Hostel di baidu map, saya menekan stop button, tapi bus baru berhenti setelah hostel. Dari informasi pihak hostel, seharusnya saya turun di Children's Palace stop, tapi di halte tidak ada tulisan latinnya. Berasumsi saya turun di halte yang benar, saya mengikuti petunjuk dari hostel. Begitu turun dari bus, tetap berada di sebelah kanan jalan, cari gang kecil di sebelah kiri, nah posisi hostel ada di ujung jalan. Nah saya miss informasi sedikit sehingga saya sempat bingung mencari posisi hostel.

Dengan mengikuti informasi tersebut, saya diarahkan ke pinggiran sungai yang agak gelap dan tidak ada informasi kalau ada hostel di area ini. Sepertinya hanya rumah penduduk dan warung makan yang ada disini. Untungnya ada orang lokal tempat bertanya dan dengan bahasa Mandarin bercampur bahasa isyarat, ia mengarahkan saya untuk kembali ke jalan utama dan jalan ke arah kiri. Saya pun mengikutinya, jalan sekitar 7 menit saya pun menemukan petunjuk hostel dan gang yang dimaksud dalam petunjuk yang dikirimkan.

Dan kamu tahu? Saya kembali ke arah halte tempat saya turun tadi, tidak jauh dari situ ada gang kecil di sebelah kiri. Tertanya oh ternyata saya salah mengartikan informasi dari mereka. Maksud mereka adalah, dari posisi turun bus saya harus jalan ke arah kanan saya sampai menemukan gang di kiri. Misread informasi, but it is okay, it is a journey.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam saat saya mulai merebahkan badan di bed yang telah saya booking di Ease Hostel ini. Tak lama seorang traveler masuk ke kamar dan kami-pun mengobrol sebentar dan memutuskan traveling bareng ke Yangshuo. Ini berarti saya harus extend 1 malam lagi di Ease hostel ini, karena sesuai jadwal seharusnya saya berangkat besok sore ke Yangshuo. Untunglah masih ada bed yang tersedia tanpa perlu pindah kamar.

Perut tidak bisa diajak kompromi, maklum dari siang belum ada makan kecuali ngemil-ngemil roti di stasiun Guangzhou. Masih pukul 20.00, suasana sekitar hostel agak sepi tapi banyak restaurant kecil di seputaran hostel yang masih buka. Tapi tujuan saya adalah night market yang tidak jauh lokasinya dari hostel,sekitar 15 menit jalan kaki. Sayangnya saya tidak tahu namanya, soalnya cuma mengikuti petunjuk dari traveler di hostel. Tapi sepertinya bukan Xicheng Night Market sih, karena rute jalannya berbeda.

Terdapat banyak restaurant seafood, steamboat dan BBQ di kiri jalan night market ini, yang lumayan ramai. Saya menyusuri night market ini sampai ujung jalan yang ternyata tidak begitu panjang, sayangnya tidak banyak penjual jajanan-jajanan pasar seperti yang saya bayangkan. Kebanyakan menjual pernak-pernik, aksesoris, baju, mainan dan lain-lain.

Putar kanan, saya kembali ke awal jalan, dan disebelah kiri ada gerobak penjual makanan yang tampaknya ramai. Saya pun mampir dan mengintip menunya. Menunya seperti mie yang dimix dengan sayuran dan buah. Nekat saya mengorder dengan menunjuk orderan orang lain yang sedang ia siapkan sambil mengisyaratkan angka 1 dengan jari. Harga yang tertera di pamplet yang ditempel didinding gerobak ada beberapa macam yang tidak saya mengerti, mulai dari 4 Yuan. Saya memberikan CNY 10 dan dikembalikan CNY 4. Mereka menyediakan beberapa pasang dan kursi untuk pengunjung yang ingin makan di tempat.

Saya duduk di salah satu kursi yang kosong. Beberapa pembeli lainnya tampak sangat menikmati makanan mereka, ada yang dengan nasi, ada juga yang dengan jajanan lainnya. Pesananan saya datang, tampilannya tidak terlalu menarik, tetapi begitu dicoba rasanya lumayan. Walau di lidah terasa aneh karena mie dan sayur dengna rasa asam plus ada potonga daging kecil didalamnya, sepertinya sih tidak halal. Kalau dipikir pikir, rasanya seperti rujak serut. Perut kenyang, saatnya kembali ke hostel.


You Might Also Like:

Newest PostNewest Post
Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar