Skip to main content
TravelNimble

follow us

Hari pertama di Guangzhou (Day 3 of 141 on the road)

Flight saya dari Singapore ke Guangzhou menggunakan Scoot Airline tanpa bagasi. Agak deg-degan sebenarnya karena saya membawa dua tas, 1 backpack Deuter 60L dan 1 backpack Eiger 20L. Kalau harus ditimbang sepertinya akan lebih dari 10kg karena saya bawa laptop, boots, jaket tebal, kamera, gimbal dan juga tripod sedangkan baju hanya bawa sedikit.

Untuk mencegah agar ditimbang, tas backpack kecil dititip ke teman Taiwan saat check-in. Dan Yess, tas saya tidak ditimbang, sukses! Ternyata Scoot Airline tidak seketat yang saya bayangkan. Sepertinya mereka hanya melihat sekilas ukuran tas kita, tidak diukur-ukur dimensi dan berat. Kita pun mengucapkan salam perpisahan karena dia belum bisa check-in, sementara saya langsung ke imigrasi dan ruang tunggu. Sayang banget tidak sempat foto bareng walau kita sempat tukaran social media.

Saat scanning tas untuk masuk ke ruang tunggi, sambal Bu Rudi dalam kemasan botol yang saya bawa untuk stock sambal selama perjalanan disita. Menurut mereka, sambal tersebut berbentuk liquid dan karena sudah lebih dari 100ml maka tidak bisa dibawa ke kabin. Sedih sih, tapi ya sudahlah, untung masih ada stock sambal sachet.

Walaupun penerbangan subuh, ruang tunggu cukup ramai. Handphone and social media menjadi teman berbincang sambil menunggu waktu terbang tiba. Pesawat berangkat on-time dan perjalanan di udara pun lancar, tidak ada turbulensi. Pesawat landing di airport Guangzhou, China dengan lancar.
Airport Guangzhou ini cukup luas, saya sempat kesulitan waktu mencari mesin ATM di airport Guangzhou, karena mesin ATM hanya ada di terminal keberangkatan.

Hari pertama di Guangzhou, China saya cukup deg-degan karena jaringan internet. Kamu tahu kan kalau di China semua aplikasi dari Google di block? Jadi kita harus menggunakan aplikasi lokal. Sebenarnya tidak ada masalah kalau mereka ada menu bahasa Inggrisnya, tapi ini semua bahasa Mandarin dan saya buta sama sekali dengan bahasa Mandarin, cuma bisa bilang wo ai ni dan tapao. Sudah banyak VPN yang saya install tetapi banyak informasi yang bilang terkadang VPN berfungsi dan terkadang tidak. Dan waktu mencari alamat hostel di Guangzhou, VPN saya "bertingkah", semua VPN tidak berfungsi. Sunguh merupakan perjuangan tersendiri saat mencari hostel saya di kota Guangzhou tanpa internet, padahal sebenarnya lokasinya tidak jauh dari Ximenkou metro station.

Saat check in di hostel Lazy Gaga Youth Hostel di Guangzhou, saya sempat membaca akan ada topan Mangkhut yang akan melanda Guangzhou. Pihak hostel menginformasikan bahwa tidak perlu terlalu dikuatirkan sepanjang tinggal didalam hostel.

Lelah dengan drama mencari hostel Lazy Gaga hari ini plus, diguyur hujan, saya kehilangan mood untuk langsung explore kota ini walaupun sebenarnya masih ada cukup waktu. Lebih baik membaringkan tubuh di kasur sampai waktu makan malam tiba.

Saya makan malam dengan seorang roommate dari Korea yang sedang berbisnis di China. Dan karena dia jago bahasa China, kami makan di restoran lokal tidak jauh hostel. Makanannya enak, porsinya banyak, minusnya hanya tidak ada yang bisa bahasa Inggris, plus menunya juga semua dalam bahasa Mandarin. Untung saya punya translator pribadi.

Besok sudah punya cukup tenaga untuk explore kota Guangzhou ini.




You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar