Skip to main content
TravelNimble

follow us

Trekking Lima Jam Fira Oia, Best View Ever

Trekking dari Fira ke Oia! Yes, kamu tidak salah baca. Trekking dari Fira ke Oia adalah salah satu aktivitas yang ingin saya lakukan di Santorini. Panjang trekking ini sekitar 10,2km, dengan lama perjalanan sekitar 3-5 jam. Trekking Fira ke Oia atau Oia ke Fira ini merupakan salah satu trekking path dengan best view dan karena itu banyak disukai pengunjung Santorini.

Bayangkan berjalan di tepi kaldera dengan pemandangan gunung dan birunya laut Aegea serta hotel-hotel berwarna putih di tepi tebing caldera. Itulah pemandangan yang akan menemani sebagagian besar waktu trekking-mu.

Trekking path-nya adalah jalan berbatu-batu yang telah disemen, jalan aspal dan juga jalan setapak berupa tanah yang berkerikil dan berbatu-batu. Medan trekkingnya kebanyakan jalan datar walau ada beberapa yang berupa tanjakan dan tangga-tangga yang sedikit terjal, jadi cocok dilakukan untuk semua umur.

Walaupun sudah memasuki winter, hari ini tidak terlalu dingin. Langit cukup cerah dan angin juga tidak berhembus dengan kencang sehingga saya cukup berani mengenakan celana pendek dan baju tipis lengan panjang. Tapi karena takut dengan perubahan cuaca bisa saja berubah sewaktu-waktu saya siapkan juga legging dan jaket di tas backpack.

Untuk logistik trekking saya menyiapkan beberapa buah apel, roti, biskuit, air dan air minum sekitar 1L. Tak lupa juga 1 thermos kecil teh manis panas sudah mengisi backpack Eiger 22L saya. Karena sudah memasuki winter, saya juga menyiapkan 1 thermos kecil teh manis hangat. Penuh persiapan?!

Saya berangkat dari hostel sekitar jam 11.00, stop over sebentar di Carrefour untuk melengkapi logistik dan trekking benar-benar dimulai jam 11.15 dari Kartedox, lokasi hostel saya berada.

Dari Kartedox ke Hotel Atlantis, start poin trekking Fira ke Oia membutuhkan waktu sekitar 15 menit jalan kaki melalui jalan raya. Sedangkan walking path yang dimulai dari hotel Atlantis ini sudah berupa jalan setapak bagi pejalan kaki.

Karena memang low season, tidak terlalu banyak turis yang tampak disini. Beberapa pengunjung sedang menikmati view kaldera dari kursi kayu yang disediakan di area ini. Sambil meneguk teh manis panas saya pun duduk di kursi yang kosong, menikmati hembusan angin dan nyanyian burung. Tentunya tak lupa mengabadikan view-nya.

Melanjutkan trekking, saya mengikuti jalan setapak menyusuri kaldera. Sepanjang jalan dipenuhi hotel-hotel bagus dan cafe-cafe yang menghadap kaldera. Beberapa cafe cukup ramai, tapi kebanyakan yang sepi. Hotel-hotel pun sudah banyak yang tidak menerima tamu lagi. Suasananya jauh dari keramaian.

Sepuluh menit kemudian, saya sampai di penghujung desa Fira. Di hadapan saya terdapat tangga-tangga dari semen berwarna putih yang sedikit menanjak yang berarti saya sebentar lagi akan keluar dari desa Fira dan akan memasuki desa kedua yaitu Firostepani tapi sebenarnya batas antara kedua desa ini tidak terlalu kelihatan. Desa Firostepani ini memang letaknya sedikit lebih tinggi dari Fira, sehingga saat tiba di puncak tangga, view desa Fira kelihatan lebih menakjubkan.

Firostepani ini jauh lebih sepi dibanding Fira, hanya ada beberapa cafe yang terlihat masih buka. Sepanjang jalan saya menemui banyak hotel-hotel bagus-bagus lengkap dengan kolam renangnya, atau hotel dengan cafe di rooftopnya yang menghadap kaldera. Indah sekali, kalau punya budget lebih ingin sebenarnya stay 1 malam disini, apalagi kalau ada yang bayarin, pengen banget.

Jangan lupa untuk mengunjungi Three Bells of Thira di gereja Virgin Mary Othodox di Firostepani. Gereja ini salah satu yang memiliki dome biru di tepi kaldera. Viewpoint dari area parkir di sebelah timur gereja.

Walking path yang menghungkan Firostefani dan Imerovigli adalah jalan berbatu dan tanah kosong. Saya meninggalkan desa Firosterani sekitar pukul 13.00, yang berarti saya sudah trekking sekitar tiga jam.

Desa Imerovigli ini juga sangat sepi, saya hanya berpapasan dengan sedikit pengunjung. Desa ini tak kalah indahnya dari dua desa sebelumnya, Fira dan Firostepani. Setiap menemukan spot yang sayang untuk dilewatkan dan area yang datar untuk meletakkan mini-tripod saya, kesempatan tidak saya sia-siakan. Beberapa shot pun diabadikan.

Sekitar 20 menit sejak meninggalkan Firostefani di belakang, kita sudah bisa melihat Skaros Rock dan juga Oia dari kejauhan. Dan tak lama kemudian, kita sudah bisa menemukan access jalan untuk menuju Skaros Rock. Waktu sudah teralu siang bagi saya untuk melakukan de-tour ke Skaros Rock, sehingga saya mengambil jalan setapak yang kanan. Semakin lama jalan setapak semakin sepi dengan rumah rumah penduduk dan hotel.

Setelah melewati Cafe Monopati dan gereja kecil, medan trekking pun berubah total. Yang tadinya merupakan jalan setapak yang sudah diaspal rapi, sekarang saya harus menuruni lereng tebing dengan medan trekking tanah yang berbatu batu. Keraguan mulai melanda, tapi rasa-rasanya saya tidak tersesat. Saya menoleh ke belakang dan beruntung sepasang traveler sepertinya punya tujuan yang sama dengan saya.

Tidak ingin kelihatan bingung, saya duduk-duduk di tembok semen rendah di samping kaldera, mengeluarkan kamera, mengabadikan beberapa foto. Perlahan mereka mulai menuruni tebing tersebut dan saya pun akhirnya mengikuti. Perlahan-lahan saya melangkahkan kaki, menjaga keseimbangan, tidak ingin terjatuh. Tapi sepertinya pasangan tersebut lebih lambat, sehingga tak lama kemudian saya pun melewati mereka. Tak lama kemudian terdengar suara seorang laki-laki di belakang saya "excuse me". Seorang laki-laki bule muda mengampiri saya dan melewati saya sambil berlari lari kecil.

Saya pikir saya bakal ada teman trekking sampai Oia, apaan, sampai di bawah tebing, sekitar 7 menit kemudian, saya tidak melihat batang hidungnya lagi. Apakah dia berlari? Atau akhirnya naik bus? Turun dari tebing ini membawa saya ke jalan raya, tidak ada track khusus untuk pejalan kaki. Tapi itu cuma sebentar, karena setelah berjalan sekitar 15 menit maka kita akan kembali memasuki track khusus pejalan kaki di bibir kaldera.

Ada keraguan sebenarnya saat memulai trekking di track yang sepi ini. Aku menoleh ke belakang, tetapi pasangan yang awalnya tepat dibelakangku tidak kelihatan batang hidungnya lagi. Apakah mereka memutuskan kembali? Atau akhirnya menunggu bus? Kubulatkan tekad dan akhirnya mulai menapaki jalan setapak ini. Posisiku sekarang seperti di tengah letter U, di sebelah kiri kelihatan desa Fira dari kejauhan dan sebelah kanan tampak desa Oia yang semakin jelas.

Karena tak banyak spot untuk mengambil photo seperti di desa-desa sebelumnya, saya mempercepat langkah kaki, kadang-kadang setengah berlari. Setengah jam kemudian saya sampai di gereja Ekklisia Profitis Ilias. Karena letak gereja ini cukup tinggi, tempat ini menjadi area yang bagus untuk mengambil foto dengan latar belakang Oia dari kejauhan.

Sekitar 20 menit berjalan kaki dari gereja tersebut saya sudah mulai memasuki desa Oia. Hotel-hotel yang bagus menyambut saya. Memasuki desa ini saya sudah mulai berpapasan dengan satu grup turis dari China yang sempat saya temui di desa Imerovgli. Sepertinya mereka dari desa Imerovigli naik bus ke sini karena sepanjang jalan saya tidak bertemu dengan mereka.

Jam di pergelangan tangan saya sudah menunjukkan pukul 16.00. Jadi in total saya melakukan trekking Fira ke Oia sekitar 5 jam termasuk istirahat dan photo-photo, padahal ini belum di pusat keramaian Oia yang jaraknya sekitar 15-30 menit lagi jalan kaki.

Puas menikmati keindahan Oia di malam hari, saya kembali ke Fira. Ya, tentu saja naik bus.

Jadi apa kamu tertarik untuk melakukan trekking Fira ke Oia ini Santorini?

You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar