Skip to main content
TravelNimble

follow us

Pendakian Rinjani Hari Ketiga: Summit Rinjani

Alarm sudah berbunyi tetapi belum ada yang keluar dari sleeping bag masing masing hingga team mas Tremo memanggil-manggil. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat kami bersiap siap untuk memulai summit ke puncak Rinjani. Beriring-iringan dengan rombongan lain kita pun memulai pendakian.

Medan pendakian cukup terjal dan curam, sempit dan berbatu-batu. Tekstur tanahnya berpasir kasar dan berkerikil, sangat berbeda dengan yang di Semeru yang lebih didominasi oleh pasir. Harry memimpin didepan diikuti olehku, Debi dan Pampam. Udara sangat dingin khususnya saat kita berhenti bergerak, dinginnya menusuk sampai tulang, aku tak sanggup kalau berhenti terlalu lama. Bagiku lebih baik berjalan perlahan, berhenti sebentar dan segera jalan kembali karena dengan begitu bisa menjaga suhu badanku.

Tak banyak canda tawa keluar dari mulut kami, karena fokus dengan jalanan didepan. Meleng sedikit bisa berbahaya. Setelah melewati jalur yang cukup sempit akhirnya kita tiba pada jalur yang sedikit lebih lebar, sehingga bisa berjalan dua sampai tiga orang. Saya masih tidak mampu melihat sekitar karena kurangnya cahaya, hanya ada headlamp yang membantu menerangi jalan.

Medan pendakian dijalur ini mulai lebih berat, angin terasa lebih dingin dan karena kita posisinya semakin tinggi, oksigen mulai berkurang sehingga cepat kelelahan. Saat ingin beristirahat, kami memilih berlindung di batu yang sangat besar untuk menghindari terpaan angin langsung.

Badanku mulai terasa mengigil, aku merasa istirahatnya sudah terlalu lama sehingga memutuskan untuk meninggalkan Debi dan Pampan yang merasa masih butuh istirahat. Sudah berjalan cukup jauh masih juga tak kutemukan Harry yang aku pikir berjalan di depan kami. Mau berhenti aku takut kedinginan sehingga aku memutuskan berjalan perlahan saja, toh masih ada pendaki pendaki lain yang silih berganti melewatiku.

Sudah cukup lama aku berjalan sendiri, Harry masih tak kutemukan. Debi dan Pampam pun belum terlihat batang hidungnya. Aku memutuskan tetap menuju puncak, berjalan bersama dengan rombongan yang lain. Sesekali aku terduduk sebentar, meluruskan kaki dan rombongan pendaki yang lewat memberikan dorongan semangat untuk maju tetap melangkah.

Aku masih berada di lereng gunung Rinjani saat semburat jingga mulai muncul di ufuk timur. Aku pun memutuskan untuk duduk sebentar di lereng ini, menunggu sang mentari menyapa dan kemudian baru meneruskan perjalanan ke puncak.

Sekitar 20 menit kemudian, aku pun akhirnya sampai di puncak Rinjani. Puncak-nya diluar bayanganku. Aku pikir puncaknya seperti puncak di gunung Semeru yang luas. Di Rinjani ini, puncaknya memanjang dan sempit. Mungkin hanya bisa untuk dua sampai tiga orang berjalan beriringan, jadi kalau mau foto di puncaknya ini pun harus gantian karena kiri kanannya langsung jurang.

Tetapi pemandangannya sangat mengagumkan, di sebelah kanan danau Segara Anak tampak kebiruan dari jauh yang dikelilingi bukit savana. Benar benar pemandangan yang tidak mampu dilukiskan oleh kata-kata.

Waktu di jam pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 5.30 pagi, tapi sosok Harry, Debi dan Pampan tidak aku temukan. Untung aku menemukan team Mas Tremo, sehingga aku bergabung dengan mereka sambil menunggu yang lain. Baru sekitar lima belas menit kemudian Harry muncul disusul Debi dan Pampam. Ternyata dari awal posisi Harry ada di belakangku.

Sempat berbincang bincang dengan seorang pendaki wanita dari Bogor pada saat di puncak dan ternyata kami berteman di facebook karena pernah trip bareng ke Bromo dan lebih lucunya, sama sekali kami tidak tahu bahwa kami berteman di facebook hingga saat dia posting photo di facebook dan masuk timeline saya. Jauh-jauh dari Jakarta dan entah sudah berapa tahun tidak ketemu, malah ketemunya di Rinjani.

Tidak seperti Semeru yang perjalanan turunnya bisa ditempuh 50% dari waktu pendakian, di gunung Rinjani ini sama saja. Jalanan agak licin dan berbatu batu, kebayang dong sakitnya bagaimana kalau harus terjatuh. Menurut saya turunan ini lebih berat dibanding naik tadi pagi. Saya dan Pampam berjalan dengan lambat dan sangat hati-hati ditemani oleh Harry. Sedangkan Debi sudah berjalan duluan dengan team Mas Tremo. Walaupun sudah cukup berhati hati, sempat juga terpeleset beberapa kali.

Kami sampai di tenda sekitar jam 10 pagi, Debi dan team mas Tremo sudah hampir selesai masak dan kami diundang makan siang lagi. "Mba Putri, mau makan bareng lagi nggak?" tanya mas Tremo. Undangan kan ya? Dan tentu saja aku iyakan. Setelah makan, kami beristirahat sebentar, mencoba untuk memejamkan mata tapi sedikitpun aku tak bisa tidur karena panas.

Matahari sangat terik dan karena tidak ada pepohonan yang menjadi pelindung, berada di dalam tenda seperti berada di dalam ruangan yang memiliki heater. Hebatnya, Debi dan Pampam masih bisa tertidur. Kalau tendanya tidak ditutup rasanya seperti dipanggang berada didalam. Sementara kalau tenda dibuka kami kuatir monyet monyet akan menjarah bahan makanan lagi seperti stock gula dan mie sebelumnya. Banyak monyet monyet nakal di area kemping kami, jadi tidak aman meletakkan barang barang diluar tenda, khususnya makanan. Daripada "terpanggang" di dalam tenda lebih baik duduk duduk di luar tenda sambil melihat kesibukan orang-orang yang akan melanjutkan perjalanan.

You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar