Skip to main content
TravelNimble

follow us

Pendakian Rinjani Hari Ketiga: Menuruni Lembah Menuju Danau Segara Anak

Sekitar pukul 13.30 kami siap-siap untuk turun ke danau Segara Anak. Malam ini kami akan kempin di area danau Segara Anak. Rombongan mas Tremo sudah pamit duluan sekitar setengah jam yang lalu, begitu juga rombongan yang lain. Tapi masih ada juga beberapa tenda masih berdiri saat kami meninggalkan area kemping.

Sekitar 10 menit dari area kemping kami masih bertemu dengan rombongan mas Tremo yang sedang duduk-duduk, sepertinya mereka berbincang-bincang dengan teman mereka. Tanpa berhenti kami pamit untuk melanjutkan perjalanan lebih dulu.

Danau Segara Anak ini berada di dasar lembah dibawah area kemping Plawangan Sembalun. Pastinya kamu sudah bisa kamu membayangkan bagaimana jalur trekkingnya. Ya, jalur treking dari dari plawangan Sembalun ke danau Segara Anak ini sangat terjal dan juga berbatu batu.

Bayangkan saja, kita harus menuruni sebuah bukit untuk sampai ke danau Segara Anak ini. Bahkan sering kami harus duduk dibatu pada saat kaki melangkah turun. Keseimbangan benar-benar harus dijaga agar tidak jatuh apalagi ada beban backpack di punggung. Dibandingkan dengan medan trekking yang berupa tanjakan, bisa dibilang saya lebih lambat di jalur trekking yang berupa turunan terjal seperti ini.

"Halo...Halo", tiba-tiba terdengar suara khas Mas Tremo yang medok dibelakang kami. Padahal kami sudah meninggalkan mereka sekitar 1 jam yang lalu. Pasti bagi mereka jalur ini cukup gampang karena tak lama kemudian mereka sudah jauh berada di depan kami.

Beberapa kali kami masih sempat susul menyusul dengan team Mas Tremo pada saat istirahat. Terkadang kami yang melewati mereka yang sedang istirahat tapi lebih sering mereka yang melewati kami entah sedang beristirahat ataupun pada saat berjalan. Bahkan teman-teman yang muslim sempat sholat bareng dengan team Mas Tremo. Dan itulah saat terakhir kami bertemu dengan rombongan Mas Tremo.

Hari sudah semakin sore, tapi kami belum sampai ke lokasi kemping dan tidak ada juga group pendaki yang lain. Tidak ada petunjuk arah yang jelas selama trekking, kita hanya mengikuti jalan setapak. Kami tidak menemukan kesulitan sampai kami tiga di sebuah persimpangan kecil. Luruskah? Atau harus belok kiri. Terus bagaimana agar tahu rute yang mana ditempuh? Kami memperhatikan tapak-tapak kaki di jalan setapak. Dan akhirnya memilih belok kiri. Pilihan yang tepat.

Matahari sudah mulai terbenam, headlamp pun mulai dipasang di kepala untuk menerangi jalan. Semuanya merasa sangat lelah khususnya Pampam yang kakinya luka karena sepatu. Kami pun tidak banyak berbicara, mencoba menyimpan tenaga yang tersisa.

Tenaga seolah-olah terisi kembali saat kami melihat bayangan tenda dibawah sinaran lampu agak jauh didepan. Kami pun berusaha mempercepat langkah. Sekitar 15 menit kemudian, kami sampai di tenda pertama yang kami temui. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul enam sore. Berarti kami menempuh perjalanan sekitar 4,5 jam dari plawangan Sembalun.

Aku dan Pampam duduk di dekat tenda ini sementara Harry dan Debi mencari lokasi untuk membangun tenda. Seorang bapak porter yang kebetulan ada di tenda menawarkan teh manis panas buat kami yang tentunya sulit untuk ditolak.

Tak lama kemudian Debi datang menjemput karena sudah menemukan lokasi untuk membangun tenda. Jam tangan di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 19.10 saat Harry dan Debi mulai mendirikan tenda. Sementara itu aku dan Pampam memasak air untuk membuat teh manis dan mie instant.

"Baru nyampe mba" sapa suara medok dari tenda sebelah. Dan tahukah dia siapa? Ya, Mas Tremo again. Sepertinya kami memang berjodoh dengan group mas Tremo ini. Tenda mereka sudah rapi berdiri dan mereka sudah bersiap untuk makan malam. Sedang focus pada air diatas kompor, tiba-tiba Mas Tremo datang membawakan semangkuk indomie panas dihadapanku.

Ah, kamu baik banget mas. Terima kasih lo. Begitulah, anak-anak pendaki itu memang biasanya memang lebih helfpul dan pengertian. Berempat kami sharing indomie semangkok, penangkal perut kosong saja sebelum mie instant kami mateng.

Tenda terpasang, perut selesai diisi waktunya memejamkan mata, memulihkan tenaga untuk esok hari.

You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar