Skip to main content
TravelNimble

follow us

Pendakian Rinjani Hari Keempat: Danau Segara Anak ke Plawangan Senaru

Tak bisa menikmati sunrise di danau Segara Anak karena pagi ini berkabut, padahal posisi tenda kami sangat bagus. Pintu tenda langsung menghadap danau Segara Anak yang dikelilingi gugusan bukit-bukit dan tentunya Gunung Baru. Kabut datang dan pergi menutupi Gunung Baru dan gugusan bukit yang ada sehingga sangat sulit untuk mendapatkan hasil photo yang bagus.

Beberapa pendaki tampak sibuk memancing di danau. Danau Segara Anak di Rinjani ini memang terkenal banyak ikannya. Bahkan ada yang porter yang hanya menggunakan tangan untuk menangkapnya, sepertinya dia sudah sangat terbiasa.

Air danau ini kurang jernih, tapi ada beberapa yang bilang bisa buat minum. Namun kebanyakan pendaki mengambil air minum dari sumber air yang jaraknya sekitar 15-20 menit dari lokasi tenda ini. Air yang langsung mengalir dari gunung pastinya rasanya lebih fresh dan segar. Dan pagi ini saya, Debi dan Pampam bertugas untuk mengisi botol-botol air minum yang sudah kosong.

Sekitar 10 menit jalan kaki, kami sampai di air terjun sekaligus "kolam" air panas. Ternyata lokasi air terjun dan air panas di Gunung Rinjani ini berlokasi di dekat sumber air ini. Sempat sih baca-baca mengenai adanya air terjun dan air panas di dekat danau Segara Anak ini, tapi tidak dijelaskan detail lokasinya sehingga kami tidak membawa perlengkapan apa-apa. Tidak ada sabun, baju ganti maupun handuk.

Botol-botol air minum sudah penuh terisi, saya dan Pampam memutuskan untuk berendam di "kolam air panas" setelah sebelumnya "mengusir" Debi. Kolam-kolam air panas ini terbentuk dari aliran air terjun, jadi sepanjang aliran air terjun terdapat banyak kolam-kolam air panas. Saya dan Pampam harus memilih kolam yang tersembunyi dan berendamnya harus gantian, jaga-jaga kalau ada pendaki lain yang ingin berendam dekat dengan lokasi kita. Maklumlah kita berendam disini seperti berendam di Jjimjilbang Korea.

Jika kamu ingin berendam di kolam air panas ini, tetap hati-hati ya karena di beberapa lokasi tertentu aliran/arusnya agak kencang. Bahkan ada pendaki yang pernah meninggal karena terhanyut saat sedang berendam/mandi di area ini.

Hari ini jadwal cukup padat karena harus kembali ke basecamp Senaru, jadi kita tidak bisa berendam lama-lama. Habis berendam air panas, sampai di tenda sarapan sudah ready. Nikmat mana yang kamu dustakan! Thank you chef Harry.

Group mas Tremo yang awalnya ragu mau turun lewat jalur Senaru atau Torean akhirnya memutuskan untuk turun lewat jalur Senaru, jadi kita bisa turun bareng, walaupun saya yakin cuma awalnya, habis itu kita pasti berada di urutan belakang.
Walaupun hari ini judulnya "turun gunung Rinjani" tetap aja kita harus nanjak-nanjak dulu sampai plawangan Senaru dulu, nanjak dari dasar lembah ke puncak bukit.

Pendakian ke Plawangan Senaru berada di sisi lain danau Segara Anak sehingga kita berjalan mengitari danau. Di sisi danau masih banyak area landai untuk kemping, tetapi tidak banyak tenda yang berada disini. Sepertinya area tenda kami merupakan area kemping utama di sekitar danau Segara Anak. Sekitar setengah jam perjalanan, jalur pendakian sudah mulai menanjak sedikit. Masih tampak dibelakang danau Segara Anak dan didepan padang ilalang yang berwarna kuning kemas-emasan. Kombinasi yang indah.

Jalur trekking danau Segara Anak sampai Plawangan Senaru memang terkenal berat. Lutut dan dada saling ketemu karena terjalnya medan pendakian yang harus kita lalui. Medan tanjakannya berupa tanah yang berbatu-batu. Bisa dibilang tidak ada bonus sama sekali, jalan datar 10 meter, tanjakan, jalan mendaki sebentar, terus tanjakan lagi. Benar benar melelahkan dan menghabiskan tenaga.

Medan terberat dari jalur ini adalah pendakian dari danau Segara Anak sampai Batu Ceper. Untungnya pemandangan danau Segara Anak dari Batu Ceper ini bagus sekali. Walaupun jalur ke Plawangan Senaru ini berat, pemandangannya bagus. Banyak spot-spot untuk viewing danau Segara Anak dan gunung Baru dari ketinggian.Seringkali kami berhenti untuk mengabadikan pemandangan ini.

Setelah perjalanan sekitar 4 jam, akhirnya sampai juga di Plawangan Senaru. Perut sudah mulai keroncongan karena jam makan siang sudah lewat. Di tempat ini biasanya digunakan pendaki untuk beristirahat sekalian makan siang. Dari tempat ini kita masih bisa melihat danau Segara Anak. Tak ingin kemalaman dijalan, setelah makan siang kami pun langsung berangkat meneruskan perjalanan ke pos 3 Senaru.

Jam sudah menunjukkan pukul 15.00, tidak yakin kami akan sampai di gerbang Senaru malam ini apalagi para porter sudah wanti-wanti agar tidak melanjutkan perjalanan ke gerbang Senaru apabila sudah malam. Bahkan porter yang kami temui di Plawangan Senaru juga mengingatkan kami agar kemping di pos 3 saja bila sudah kemalamanan. Menurut mereka, jalur Senaru ini terkenal mistis, khususnya jalur pendakian di sekitar pos 2.

Bisa dipastikan kalau malam jalur ini sangat sepi, disarankan kalau memang nekat mau turun malam hari sebaiknya mengambil jalur Sembalun. Atau kalau memang harus melakukan pendakian malam hari dari jalur Senaru ini, disarankan turun dengan rombongan lainnya. Jangan hanya berempat.

You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar