Skip to main content
TravelNimble

follow us

Pendakian Rinjani Hari Keempat: Plawangan Senaru ke desa Senaru

Medan trekking dari Plawangan Senaru sampai pos 3 sudah tidak terlalu berat, didominasi oleh turunan yang tidak terjal. Diawal-awal trekking, medannya berupa tanah yang berbatu-batu. Karena sudah melalui medan yang jauh lebih berat, rasa-rasanya jalur ini sudah "agak mudah".

Matahari sudah tenggelam saat kami sampai di pos 3, beberapa tenda pendaki lain sudah mulai berdiri. Ada beberapa orang yang rencananya mau turun malam ini, sambil mencari-cari rombongan yang lain. Kami masih ragu. Jujur, badannya sudah sangat lelah. Tapi kalau kami baru turun besok pagi, maka schedule kami akan sedikit berantakan.

Jadwal kami besok adalah ke pulau Kenawa. Belum lagi stock mie kami tinggal beberapa 2 bungkus, karena dijarah oleh monyet-monyet di Plawangan Sembalun. Untuk makan malam saja, kami dapat tambahan mie dari teman pendaki yang lain.

Beberapa rombongan akhirnya memutuskan untuk turun malam ini juga dan mengajak kami untuk turun bareng termasuk rombongan mas Tremo. Totalnya menjadi 13 orang. Diantara 13 orang tersebut hanya saya dan Pampang yang perempuan. Posisi rombongan diatur sedemikian rupa, pendaki berbaris satu-satu dengan saya dan Pampam berada ditengah-tengah barisan.

Jalur pendakian dari pos 3 sampai dengan basecamp Senaru sudah tidak terlalu sulit, tidak ada tanjakan yang berarti. Medan trekkingnya adalah jalan setapak tanah dengan akar-akar pohon. Walaupun begitu kita harus hati-hati, karena bisa saja kita terjerembab jatuh karena akar-akar tersebut. Dari pos 3, team lead rombongan, yang sepertinya sudah familiar dengan area memberi beberapa arahan.

Dalam perjalanan tidak boleh ribut, mulut benar-benar dijaga. Lampu senter/headlamp tidak boleh mengarah ke hutan yang ada di kiri/kanan jalan. Harus tetap kedepan. Jika team yang dibelakang ingin berhenti, harus memberi kode agar rekan yang lain ikut berhenti. Tidak boleh jalan terpisah-pisah walau beberapa meter. Dan kita juga harus mendengarkan aba-aba dari team lead yang ada didepan.

Beberapa kali kami harus berhenti karena ada yang ingin mengikat sepatu, minum ataupun membenarkan headlamp. Tapi ada juga saat-saat yang sedikit mencekam dimana kami tiba-tiba diminta berhenti oleh team lead yang didepan sambil harus mematikan senter/headlamp. Hening yang mencekam, bahkan suara daun yang bersuara ditiup angin kencang bisa kedengaran. Bulu kudukku merinding saat terdengar suara burung hantu. Sungguh, ini perjalanan malam yang mencekam bagiku.

Sepertinya yang lain juga merasakan hal yang sama. Mungkin mereka juga mengucap doa dalam hati, sama halnya seperti aku yang mengucap Salam Maria dan Doa Bapa Kami khususnya jika tiba-tiba aku merinding atau tiba-tiba timbul perasaan tidak enak. Semua orang tampak lelah tetapi tetap berusaha meneruskan perjalanan. Sempat kami beristirahat beberapa kali karena dalam rombongan ada teman yang terluka saat pendakian. Kalaupun beristirahat harus tetap di barisan.

Akhirnya setelah perjalanan panjang penuh deg deg-an malam ini, kami tiba juga di gerbang Senaru sekitar pukul 2 pagi. Ada warung disini, tapi tentunya mereka tutup. Tapi mereka ada balai-balai, jadi kita bisa meluruskan badan sebentar. Bahkan teman-teman pendaki sempat tidur, termasuk Debi dan Pampam. Sedangkan aku? Tak sedikitpun aku bisa memejamkan mata karena mengigil kedinginan padahal bisa dibilang baju yang aku pakai sudah berlapis-lapis.

Kokokan ayam membangunkan yang tertidur, sementara aku sudah dari subuh menghangatkan diri di api unggun sambil menikmati pisang bakar. Setelah saling berpamitan dan photo bersama satu demi satu para pendaki pun turun ke desa Senaru.

Banyak warung di sekitar Basecamp Senaru ini, bahkan ada beberapa homestay. Saat sarapan kami malah ketemu lagi dengan rombongan yang lain, mereka juga sedang menikmati sarapan. Ada yang akan berangkat ke Gili Trawangan dan ada juga yang langsung pulang ke kota masing masing.

Dan kami pun mendapatkan cerita bahwa tadi malam, saat kami tiba-tiba disuruh untuk berhenti berjalan dan menjaga keheningan (tepatnya dimana aku lupa sepertinya diantara pos 2 bayangan dan pos 2), katanya ada kuntilanak lagi terbang diatas kami, tapi mereka tidak cerita detailnya seperti apa.
Sebelum melanjutkan perjalanan kami menuju air terjun Sendang Gile sekitar 20 menit berjalan kaki, setiap harus menuruni tangga kakiku sakitnya minta ampun, cidera otot. Hari dan Debi berendam sementara aku dan Pampam hanya merendam kaki. Air terjunnya menurutku biasa saja, tidak ada yang terlalu istimewa. Perjalanan pun dilanjutkan ke Pelabuhan Kahyangan (kurang lebih 3 jam), but too bad, Harry "meninggalkan" souvenir disini, dia kehilangan sepatu gunungnya.Good Bye Rinjani!

Note : Bagi yang tidak menyewa mobil, dari desa Senaru sebaiknya pesan mobil pick up terlebih dahulu karena mobil pick up tidak tersedia setiap saat, atau naik ojek menuju Ancak atau Anyar dengan biaya IDR 25.000, jaraknya sekitar 10km. Lalu dari kota tersebut cari Elf menuju Mataram IDR 30.000, dengan lama perjalanan sekitar 2-3 jam.










You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar