Skip to main content
TravelNimble

follow us

Pendakian Gunung Rinjani Hari Kedua: Trekking ke Plawangan Sembalun

Alarm disetting subuh agar kami bisa menikmati keindahan sunrise. Posisi tenda kami lumayan bagus, cukup duduk di depan tenda dan kita sudah bisa melihat sunrise.

Saat aku membuka tenda, terlihat semburat warna jingga menghiasi langit dan tak lama kemudian sang mentari mulai mengintip dari balik bukit di ufuk timur dan perlahan-lahan memamerkan dirinya sepenuhnya. Menyaksikan pemandangan ini sambil menikmati secangkir kopi bukanlah sesuatu yang bisa kita dapatkan setiap hari khususnya di Jakarta. Bangun pagi di gunung? Ga masalah! Tapi entah kenapa kalau bangun pagi saat hari kerja, rasanya kok malas sekali ya.

Menurut informasi yang beredar di dunia maya, di pos 2 ini ada sumber air. Untuk memastikan hal tersebut, aku dan Harry menuju spot sumber air tersebut, yang berada di bawah jembatan yang kami lewati saat dalam perjalanan pos 1 ke pos 2, kurang lebih 7 menit jalan kaki.

Ini masih bulan Mei, musim hujan belum lama berlalu tetapi sumber air yang dimaksud disini kering. Air yang keluar dari dinding tebing sangat kecil, bisa berjam-jam untuk menampung 1 botol aqua 300ml, padahal ada beberapa orang yang saya lihat membawa botol. Hanya ada genangan-genangan kecil air di bebatuan saat kita berjalan agak jauh kedalam jalur aliran sungai ini. Apakah ini bekas air hujan atau sisa sisa dari aliran sungai, kami kurang tahu. Lebih baik persiapkan stock minuman sampai pos 3. Menurut informasi pendaki yang kami temui, di pos bayangan 3 juga ada sumber air tetapi medannya agak berat karena harus menuruni tebing/batu yang agak terjal.

Tak ingin berlama-lama, setelah sarapan kami segera membongkar tenda karena perjalanan masih cukup jauh. Bisa dibilang perjuangan sebenarnya baru dimulai hari ini. Kita akan melewati/mendaki 7 bukit dengan kemiringan hampir 50 derajat yaitu 7 bukit penyeselan, yang juga terkenal dengan nama tanjakan penyesalan. Kenapa dinamakan tanyakan penyesalan? Karena disinilah katanya nyali pendaki diuji.

Bayangkan, saat mulai pendakian kita melihat puncak bukit yang rasanya tidak terlalu jauh dan tinggi. Tapi pada saat kita mencapai puncak tersebut, puncak-puncak lain menunggu di depan. Mau melanjutkan rasanya berat, mau menyerah juga sama beratnya, turunnya juga jauh. Dilema!?

Track pendakian gunung Rinjani sampai dengan pos 3 masih didominasi oleh padang savana. Walaupun jalur trekking-nya sudah mulai menanjak tapi belum terlalu berat. Badan kami sepertinya sudah mulai menyesuaikan karena rasanya tidak selelah saat memulai pendakian di hari pertama.

Mungkin karena suasana masih pagi, kita banyak bertemu dengan group pendaki yang lain. Sebelum sampai di pos 3 kami sempat berhenti beberapa kali untuk istirahat sebentar tapi yang agak lama-an di pos 3 bayangan dan pos 3.

Kami makan siang di pos 3 karena disini karena agak adem, pos tiga ini berada di balik batu besar. Kebanyakan pendaki juga beristirahat atau memasak makan siang disini karena disini ada sumber air minum. Jangan lupa isi ulang perbekalan air minum disini karena sampai dengan pelawangan sembalun tidak ada lagi mata air.

Siapkan mental dan tenaga untuk jalur pos 3 ke pelawangan sembalun. Awal-awal pendakian saja sudah memiliki kemiringan sampai dengan 45 derajat. Dengan perlahan lahan dan napas yang tersengal sengal kita berusaha menaklukan rasa lelah. Tetapi bapak-bapak porter berjalan begitu santai dengan cepat padahal mereka membawa beban begitu berat bahkan banyak diantara mereka yang hanya memakai sandal jepit, ada pula yang bertelanjang kaki. Dengan cepat biasanya para pendaki akan memberikan jalan bagi mereka, berusaha untuk menolong dengan cara yang paling simple.

Berminat untuk menyewa porter dalam melukan pendakian di Rinjani? Biaya-nya biasanya sekitar IDR 150.000/hari. Bukan biaya yang mahal menurutku. Apalagi kalau kamu sharing beberapa orang.

Awal perjalanan kami berempat masih berjalan beriringan tetapi di tengah perjalanan sudah mulai terpencar. Harry dan Pampam memimpin di depan sementara aku dan Debi silih berganti di posisi ketiga dan juru kunci. Entah kenapa betisku terasa seperti kram, cepat pegel kalau dibawa jalan lama sehingga sering sekali aku berhenti sebentar-sebentar sambil tak lupa mengoleskan counterpain.

Siang hari berjalan sendiri tanpa teman team tidak membuatku takut sama sekali karena jalur ini termasuk sangat ramai. Selalu saja ada orang yang akan menyapa "excuse me" "misi" atau bahkan sampai kenalan. Saya pada akhirnya malah nempel dengan rombongan mas Tremo dari Semarang, team 1 cowok yang lain dari Semarang dan team dari Yogya. Kita berjalan susul susulan, berhenti bareng, photo bareng dan saling menawarkan stock makanan masing masing.

Mas Tremo bahkan menawarkan untuk mampir ke tendanya nanti untuk makan bakwan karena dia dan team rencananya malam ini akan bikin bakwan sayur. Tawaran yang menggoda tapi nggak mungkin kan nanti diatas saya nyari-nyari tenda dia demi bakwan?

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 saat kami sampai di puncak bukit terakhir sedangkan area kemping masih sekitar setengah jam lagi. Yang terpenting medan yang paling berat sudah terlewati. Sambil menungggu rekan yang lain kami pun meluruskan kaki di area ini. Jika dihitung hitung mulai dari pos 2, kami sudah berjalan kurang lebih 6,5 jam sampai dengan area ini.

Beristirahat sekitar 10 menit dan rekan yang lain sudah sampai, kami pun melanjutkan perjalanan ke area kemping. Saat kami tiba, Harry dan Pampam sudah mulai mendirikan tenda. Tetapi karena lokasinya yang kurang bagus, kami pindah mencari lokasi yang lain, yang lebih dekat ke sumber mata air dan jalur trekking ke puncak. Eh malah jodoh, tenda kami bersebelahan dengan tenda Mas Tremo dan dengan team yang lain. Hore, akhirnya jadi juga makan bakwan.

Matahari sudah mulai tenggelam saat Harry dan Debi mulai mendirikan tenda. Sementara saya dan Pampam menikmati secangkir teh manis hangat suguhan Mas Tremo.

Mungkin karena kasian karena hari sudah semakin malam, mas Tremo malah nawarin untuk makan bareng saja. Tentu saja idenya aku sambut dengan anggukan setuju dengan mantap. Jadilah akhirnya kita makan malam bareng. Masing-masing mengeluarkan lauk andalan dan saling berbagi. Indahnya kebersamaan. Dan itulah gunanya tidak sungkan-sungkan kalau naik gunung. Terima kasih Mas Tremo dan team.

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, kami pun kembali ke tenda untuk beristirahat karena sekitar pukul satu dini hari kami harus bangun dan memulai pendakian ke puncak gunung Rinjani.

You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar