Skip to main content
TravelNimble

follow us

Pendakian Gunung Rinjani Hari Pertama: Pos 2 melalui Jalur Sembalun

Pendakian Rinjani! Dengan track record pendakian gunung yang masih bisa dihitung pakai jari, bisa dibilang aku cukup berani untuk melakukan pendakian gunung Rinjani yang tingginya 3726 mdpl.

Kenali dirimu saat traveling. Hal ini juga yang aku pegang saat aku memutuskan untuk ikut. Aku cukup mengenal "siapa aku". Kemampuanku, daya tahan tubuhku dan juga kekuranganku sehingga aku merasa cukup percaya diri.

Terdapat beberapa jalur pendakian gunung Rinjani yang bisa diambil oleh pendaki. Tetapi yang umumnya di ambil pendaki adalah jalur Sembalun dan Senaru. Jalur Sembalun lebih panas tetapi pemandangan savana-nya sangat indah. Sedangkan jalur Senaru lebih adem buat pendakian. Kami memutuskan untuk melakukan pendakian dari jalur Sembalun dan akan turun melalui jalur Senaru.

Kebutuhan logistik adalah satu satu hal yang terpenting saat kemping, jadi pastikan kalau logistik cukup selama kemping diatas gunung. Untuk berbelanja kebutuhan logistik ini kami menuju Pasar Aikmel yang jaraknya sekitar 1,5 jam dari bandara Lombok. Pasar Aikmel ini merupakan pasar tradisional di Lombok. Hampir semua kebutuhan logistik seperti sayur sayuran, buah, ikan bisa kamu temukan di pasar ini dan tentu saja harganya juga tidak mahal dibanding jika kamu belanja di warung. Agar praktis dan menghemat waktu memasak di Rinjani, kami membawa lauk matang seperti rendang, tempe orek, kentang goreng dan lain lain.

Perjalanan dari bandara Lombok ke Sembalum kurang lebih 3 jam dan satu jam terakhir sebelum tiba di Sembalun kita akan disuguhkan dengan pemandangan yang bagus sekali. Di sebelah kiri jalan kita bisa menikmati indahnya lekukan dari gugusan bukit bukit hijau. Pemandangan yang menyejukkan mata.

Sebelum naik ke gunung Rinjani kita harus mengurus ijin pendakian di kantor balai TNGR yang lokasinya tidak jauh dari gerbang pintu masuk pendakian. Kita harus mengisi daftar tamu dan membayar uang masuk IDR 5.000/hari/orang. Tidak banyak pendaki yang kami temui saat kami melakukan pendaftaran, mungkin sudah berangkat atau pendakian memang lagi tidak ramai.

Kami memulai pendakian sekitar pukul 12.45 siang setelah teman yang lain selesai sholat. Atas saran seorang traveler, kami mengambil jalur lain yaitu jalur penduduk atau dikenal juga dengan jalur Bawok Nao. Selain pemandangannya lebih indah, katanya bisa menghemat perjalanan sekitar 1 jam.

Jika kamu tetap ingin naik melalui jalur dari gerbang TNGR, kamu bisa naik pickup dari gerbang pendakian di sebelah balai TNGR dengan biaya IDR 150.000/pickup yang bisa menghemat waktu pendakian sekitar 1 jam. Kalau tetap mau jalan juga bisa, hanya saja perjalanan jadi lebih panjang.

Beberapa rombongan bule yang menggunakan jalur yang sama dengan kami tampak sangat kelelahan terduduk di depan warung tepat di samping jalan setapak rute yang akan kami lalui. Dari pakaian yang kucel penuh dengan debu dan keringat, sepertinya mereka baru turun dari Rinjani.

Kebanyakan bule ikut tour pendakian Rinjani dari operator lokal dengan fasilitas full service, semua barang dibawakan oleh porter. Harga porter sebesar IDR 150.000/hari (sudah naik menjadi IDR 250.000/hari) biasanya staff TNGR akan menawarkan apakah kita membutuhkan guide/porter. Pendakian ini kami anggap sebagai ajang untuk menantang diri sendiri, menguji kemampuan dan oleh karean itu kami memutuskan tidak menyewa porter. Jadi barang-barang bawaan dibagi empat, tapi bisa dibilang sebagian besar alat alat kemping dibawa oleh Harry dan Debi, sedangkan saya dan Pampam membawa barang logistik.

Track awal pendakian melalui jalur ini adalah ladang penduduk dan setelah itu adalah savana, savana dan savana. Kita akan melewati beberapa jembatan dengan sungai yang kering selama pendakian. Mungkin kalau musim penghujan terdapat air di sungainya ini? Entahlah. Warna ilalang dan rumput-rumputan sudah mulai berubah menjadi kuning kecoklatan, pemandangan yang angat indah. Sejauh mata memandang, pemandangan gundukan gundukan bukit hijau memanjakan mata.

Medan pendakian ke pos 1 masih relatif landai tetapi sesekali ada juga tanjakan yang harus dilewati walau tidak begitu terjal/tinggi. Karena hampir sebahagian besar track jalur ini adalah padang savana, maka terik matahari akan langsung menerpa ubun-ubun kepala. Pakailah pelindung kepala dan juga sunblock khususnya jika pendakian berlangsung di pagi/siang hari dan jangan lupa bawa air minum secukupnya. Tidak ada sumber air minum pasti sampai dengan pos 3 karena sumber air minum di pos 2 airnya lebih sering kering.

Awal pendakian begitu berat, apalagi matahari bersinar sangat panas seolah olah sedang menguji kami. hampir setiap jam kami berhenti untuk beristirahat. Apalagi saat menemukan pohon tinggi dan rindang, pasti kita secara otomatis langsung menepi seolah olah pohon rindang tersebut sangat langka. Tetapi memang benar adanya, tidak banyak pohon rindang di jalur ini.

Beberapa grup pendaki yang kelihatannya sudah memiliki jam terbang tinggi beberapa kali melewati kami. Sedangkan kami berjalan sedikit lambat apalagi ditambah dengan dua wanita yang sibuk mengabadikan pemandangan yang ada.

Ada rasa lega dan bangga saat akhirnya berhasil sampai pos 1 (baru pos 1 padahal). Sudah ada beberapa group pendaki yang beristirahat disini, termasuk pendaki yang tadi sempat melewati kami. Menyapa ramah, berbincang bincang, sambil saling memperkenalkan diri. Satu demi satu grup yang lain melanjutkan perjalanan, grup kami merupakan yang terakhir.

Setelah beristirahat cukup lama disini, kami melanjutkan perjalanan ke pos 2. Jalur pendakian dari pos 1 ke pos 2 sudah ada mulai tanjakan, walaupun tidak berat. Pendakian terasa lebih ringan, selain karena badan sudah mulai menyesuaikan, matahari pun sudah mulai meredup. Kami masih berada di jalan, saat sang mentari berpamitan ke peraduan malam. Semburat jingga menghiasi langit. Pemandangan yang menakjubkan.

Matahari sudah mulai tenggelam saat kami sampai di pos 2, sudah terlalu malam untuk melanjutkan ke pos 3. Jadi kami mendirikan tenda di pos 2 ini. Hanya ada beberapa tenda yang berdiri disini. Banyak yang memilih tetap melanjutkan perjalanan ke pos 3, berjalan di bawah penerangan bulan dan headlamp.

Malam ini kami tidak perlu memasak karena kami sempat membungkus nasi dari bawah tadi. Lumayan menghemat tenaga apalagi ini baru hari pertama, tubuh pasti terkejut diajak kerja keras mendaki gunung dengan beban backpack di punggung. Biasanya kerjaan-nya hanya malas malasan, seharian duduk di belakang meja. Secangkir kopi panas menemani kami sambil menunggu bintang-bintang bertamu.

Walaupun saya besar di daerah pegunungan, tetap saja saya tidak kuat dengan udara gunung. Saya sudah menggunakan baju berlapis lapis plus jaket tebal membungkus paling luar, tetap saja kurasakan dingin menusuk kulit.

Enggan rasanya keluar tenda, tapi godaan untuk melihat taburan bintang di langit malam sangat menggoda. Tak sia-sia akan berusaha menahan dingin, malam itu langit sangat indah. Sayang sekali aku tidak bisa mengabadikan milky way dengan kamera, maklumlah kamera kurang memadai plus photographernya pun amatiran. Tak mengapa, mataku sudah menyaksikannya dan otakku sudah merekamnya.

You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar