Skip to main content
TravelNimble

follow us

Jelajah Sumba Selama 10 Hari dengan Motor Dengan Budget Kecil

Saya gagal menjalankan misi traveling di Indonesia Timur selama tiga bulan karena biaya yang sangat tinggi. Sebagai seorang traveler tanpa sebuah pekerjaan, biaya menjadi pertimbangan yang utama. Untungnya saya masih bisa "mengompori" seorang teman untuk traveling ke Sumba dan teman tersebut berhasil juga "mengompori" seorang teman, sehingga total yang berangkat menjadi tiga orang.

Budget terbatas, waktu lumayan panjang tapi punya niat buat jalan-jalan, itulah kami. Dan untuk itu kita harus pintar menyiasati budget traveling. Saya mengasumsikan biaya traveling di Sumba ini sekitar IDR 2.000.000 - IDR 2.400.000 sudah termasuk biaya penginapan, sewa motor, uang masuk tempat wisata tetapi tidak termasuk tiket dari/ke kota Sumba selama kurang lebih dua minggu.

Perhitungan saya tidak jauh meleset, untuk 10 hari perjalanan ini kami hanya menghabiskan IDR 1.920.000/orang. Biaya penginapan dan biaya sewa motor menghabiskan porsi yang paling besar yaitu IDR 1.400.000 untuk biaya sewa 2 motor selama 7 hari dan IDR 2.075.000 untuk biaya penginapan selama di Sumba. Sedangkan biaya makan relatif murah. Kamu masih bisa mendapatkan makan yang layak dengan biaya sekitar IDR 10.000 - IDR 20.000, tergantung menu tentunya.

Lalu berapa biaya yang kami keluarkan untuk tiket masuk dan keluar Sumba? Tiket ekonomi PELNI Benoa, Bali ke Waingapu, Sumba sebesar IDR 315.000 karena beli di agent, sementara kalau beli langsung di PELNI sekitar IDR 298.500,- Untuk harga tiket Waingapu - Benoa juga harganya sama, tapi karena kami kehabisan tiket kami harus membeli tiket pesawat ke Denpasar dari Waingapu sebesar IDR 1.360.000,-

Kami tidak langsung membeli tiket pulang dari Waingapu karena seorang teman mempunyai jadwal kerja yang belum pasti. Kemungkinan besar ia akan pulang lebih awal dengan pesawat atau ikut kami pulang naik kapal PELNI pada tanggal 11 Juni. Tapi karena berpikir tanggal tersebut sudah lewat peak season libur lebaran, maka kami santai saja. Apalagi tiket berangkat dari Benoa juga baru kami beli 4 hari sebelumnya. Tapi disinilah letak kesalahan kami. Kapal KM Willis yang seharusnya berangkat tanggal 4 Juni dari Waingapu ke Benoa dengan transit di Labuan Bajo gagal berangkat karena ombak yang sangat kencang. Sehingga mau tidak mau hal tersebut memberikan efek yang tidak bagus buat kami. Tiket untuk Waingapu - Benoa tanggal 11 Juni bahkan untuk tanggal 13 Juni sudah habis terjual. Lalu option apa yang tersedia ? Naik ferry ke Ende atau naik ferry ke Sape tetapi harus menunggu 1-2 hari lagi karena jadwal ferry tidak ada setiap hari.

Setelah pertimbangan panjang dan kalkulasi biaya, akhirnya kedua teman traveling saya membeli tiket pesawat tanggal 9 Juni malam untuk keberangkatan tanggal 10 siang. Sedangkan saya? Saya baru menyusul membeli tiket pesawat tanggal 10 Juni pagi, karena saya tidak mendapatkan respon positif dari beberapa host di Sumba dan guide di Sabu.

Itinerary jelajah Sumba Selama 10 hari dengan motor :
31 May - 2 Juni 2019, Perjalanan Benoa ke Waingapu dengan kapal PELNI KM AWU
Jika sesuai dengan jadwal KM Awu seharusnya berangkat dari Benoa jam 21.00 tapi di parkiran pelabuhan, kami mendapat informasi dari penjual makanan di warung bahwa KM AWU datangnya telat, mungkin sekitar 23.30 karena ombak sedang kencang. Proses masuk ke dalam kapal, loading barang dan lain lain, kapal mulai berangkat ke Waingapu baru sekitar jam 01.00 tanggal 1 Juni 2019.

Telat berangkat otomatis juga telat sampai. Kapal baru sampai di pelabuhan Waingapu jam 16.00 tapi proses turun dari kapal juga memakan waktu, kami baru berhasil turun jam 17.30. Dari pelabuhan kami menebeng pick up ke hostel Jimmy. Setelah makan malam kita bertemu dengan teman lokal di hostel sambil diskusi mengenai perjalanan yang akan kami lakukan.

Penginapan : Hotel Jimmy, Waingapu

3-4 Juni 2019, Explore Sumba Timur
Dengan bantuan Mas Baasyar kami mendapatkan sewa sepeda motor dengan harga IDR 100.000/hari. Karena kita rencanya mau naik kapal PELNI lagi ke Benoa maka kami harus kembali ke Waingapu setelah explore Sumba Barat Daya dan Sumba Barat, jadi untuk irit transportasi kami akan naik motor ke Sumba Barat. Dua hari di Sumba Timur kami ke Purukambera, air terjun tanggedu, pantai walakiri dan beberapa spot lainnya. Kami juga sempat kemping di bukit tenau 1 malam, pengalaman yang menyenangkan.

Penginapan: Amo Tukang Homestay dan Kemping di bukit Tenau

5 Juni 2019, Perjalanan Sumba Timur ke Sumba Barat Daya
Jarak antara kota Waingapu, Sumba Timur ke Sumba Barat Daya tepatnya hotel kami, yaitu Rumbah Budaya Sumba sekitar 176 km yang kami tempuh sekitar 4,5 jam. Termasuk berhenti di bukit Wairinding dan makan di kota Waikabubak. Jalan raya yang menghubungkan kedua kabupaten ini sangat bagus kondisinya. Padang savana mendominasi pemandangan di jalan area Sumba Timur sedangkan persawahan mendominasi Sumba Bara dan Barat Daya.

Penginapan : Rumah Adat Budaya Sumba

6 Juni 2019, Explore Sumba Barat Daya
Dibandingkan dengan Sumba Timur, pengelolaan tempat wisata di Sumba Barat Daya ini belum terorganisir dengan baik. Uang parkir untuk motor/mobil relatif sangat tinggi. Di antara tempat wisata yang kami kunjungi, hanya Weikuri Lake lah yang pengelolaan-nya sudah bagus. Ada tiket untuk uang masuk dan uang parkir dengan nominal jelas, bahkan sangat murah. Selain Weikuri Lake kami juga sempat mengunjungi Pantai Mandorak, Rumat Adat Ratenggaro dan juga Pantai Bhawana.

Penginapan : Hotel Tambaloka

7 Juni 2019, Perjalanan Sumba Barat Daya ke Sumba Barat
Dari Sumba Barat Daya ke Sumba Barat hanya sekitar 1 jam naik motor. Tapi diantara kedua kabupaten ini terdapat beberapa spot yang menarik untuk disinggahi, salah satunya adalah Waikelo Sawah. Tidak jauh dari lokasi Waikelo Sawah ini, sebenarnya terdapat air terjun menarik yang bisa dikunjungi.

Jarak yang tidak terlalu jauh dari Sumba Barat Daya ke Sumba Barat memungkinkan kami untuk mengunjungi air terjun Lapopu walaupun karena tidak sempat untuk trekking ke air terjun matanyanu.

Penginapan : Wisma Sutomo

8 Juni 2019, Explore Sumba Barat
Penasaran dengan jalur trekking dari air terjun Lapopu ke air terjun matanyanu, kita kembali ke pos air terjun lapopu. Sebenarnya bisa aja langsung ke air terjun mata nyanu, tapi berdasarkan informasi parkir motor tidak begitu aman, maka kami lebih memilih trekking dari air terjun lapopu. Di Sumba Barat ini terdapat juga pantai yang bagus, resort Nihi yang merupakan salah satu resort yang terkenal di dunia juga berada di daerah ini. Sayangnya karena kami tidak menginap di hotel ini, kami tidak punya akses untuk melihat kesini karena outsider tidak diijinkan untuk masuk, bahkan untuk makan di restaurant ini juga tidak diijinkan padahal saya bersedia untuk mengeluarkan budget agak mahal khusus untuk yang satu ini.

Penginapan : Wisma Sutomo

9 Juni 2019, Perjalanan Sumba Barat ke Sumba Timur
Hari ini kami akan melakukan perjalanan panjang kembali ke Sumba Timur selama kurang lebih 3,5 jam. Berbeda dengan saat keberangkatan kami ke Sumba Barat Daya yang sulit menemukan warung ngaso dan tempat makan karena libur lebaran, kali ini sudah banyak warung warung makanan yang buka sehingga kita bisa ngaso

Sampai di penginapan di Sumba Timur kita langsung mencari opsi transportasi kepulangan ke Benoa, Bali. Setelah reserach dan diskusi panjang dengan teman lokal di Sumba ini, maka opsi yang paling memungkinkan adalah :
1. Naik ferry Waingapu - Aimere tgl 11 Juni 2019 dengan lama perjalanan sekitar 9 jam berangkat jam 22.00 WITA dengan biaya sekitar IDR 81.000
2. Waingapu - Ende, tanggal 12 Juni dengan lama perjalanan sekitar 13 jam dengan biaya IDR 83.000
3. Waingapu - Sape*, tanggal 12 Juni dengan lama perjalan sekitar 9 jam dengan biaya sekitar IDR 52.000
4. Kapal perintis, nah untuk yang ini kita harus datang langsung ke pelabuhan mencari cari sendiri keberangkatan kapal perintis yang ada.
*Seharusnya ferry berangkat dari Waikelo, tapi karena dermaga di Waikelo sedang diperbaiki maka ferry dialihkan ke Waingapu.

Paling tepat sebenarnya naik ferry ke Sape tapi rawan di rescudelue karena ombak yang cukup tinggi. Pertimbangan waktu dan biaya wajib untuk diperhitungkan. Akhirnya minggu malam kedua partner traveling saya memutuskan untuk pulang ke Bali dengan pesawat, dengan harga sekitar IDR 1.360.000.

Sedangkan saya? Sampai tengah malam saya masih berusaha untuk mencari alternatif lain yaitu mungkin naik ferry ke Kupang, atau naik ferry ataupun pesawat ke Sabu dan sambil mencari host di couchsurfing. Tapi sayangnya hingga subuh, tidak ada respon positive yang saya dapatkan sehingga sayapun segera membli tiket yang sama, dan pulang ke Denpasar, Bali. Seandainya saja saya belum pernah explore Flores atau Sumbawa mungkin saja saya akan mengambil option 1,2 dan 3.

TIPS :
1. Bagaimana cara menuju Sumba ?
a. Paling gampang tentu naik pesawat dengan tujuan Tambaloka di Sumba Barat Daya atau tujuan Waingapu di Sumba Timur. Agar lebih flexible sebaiknya datang/pulang melalui kota yang berbeda tetapi biasanya tiket pesawat ke/dari Waingapu sedikit lebih mahal dibanding dari Tambaloka.
b. Naik kapal PELNI dengan tujuan Waingapu, Nusa Tenggara Timur. Kapal ini menyinggahi beberapa kota besar di Indonesia seperti Surabaya dan Bali. Untuk detail kapal dan jadwal bisa langsung di access di website www.pelni.co.id
c. Naik ferry dari beberapa kota seperti yang saya jelaskan diatas, untuk jadwal ferry terupdate bisa langsung diaccess di www.indonesianferry.co.id
2. Berapa harikah waktu yang paling tepat untuk explore Sumba? Menurut saya minimal 5 hari, tapi kalau punya waktu lebih sebaiknya lebih lama jadi tidak terlalu rushing.
3. Sewa motor atau mobil? Cuma berdua atau sendiri? Pastinya sewa motor dong. Apalagi kalau memang senang beradventure. Enaknya kalau naik motor itu kita gampang berhenti di spot yang menurut kita bagus. Tapi kalau agak ramaian, silahkan mempertimbangkan untuk sewa mobil.
4. Perlukah guide selama di Sumba ? Apakah kamu typical yang takut tersesat? Malas untuk nego nego? Silahkan mempertimbangkan untuk sewa guide selama di Sumba. Selama kami di Sumba kami tidak menyewa guide, tapi saat di Sumba Barat Daya kami beberapa kali agak nyasar mengikuti petunjuk dari google maps saat mencari spot wisata. Oh iya, di beberapa tempat wisata terkadang mereka mewajibkan kita untuk menyewa guide, padahal sebenarnya tidak perlu. Kami hanya menyewa guide saat trekking dari air terjun Lapopu ke air terjun matanyanu karena lama perjalanan sekitar 1 jam dan tracking melalui hutan.





You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar