Skip to main content
TravelNimble

follow us

Taraw Climbing, Aktivitas Menarik di El Nido

Malam kedua di EL Nido kami pindah ke hostel baru yang sudah dibooking dari Jakarta yaitu Makulay Lodge yang ternyata jaraknya lumayan jauh. Kami harus berjalan sekitar 20 menit dari Tay Miloy's Inn. Tapi ini belum ada apa-apanya karena perjuangan sebenarnya dimulai saat menuju kamar yang berupa cottage diatas bukit.

Bayangkan, dengan kondisi badan letih setelah aktivitas seharian di laut harus menaiki tangga yang lumayan tinggi dan memikul backpack yang cukup besar di punggung, rasanya pengen saya tinggal saja itu backpack di diresepsionis.

Saya tidak tahu sudah berjalan berapa lama, tapi rasanya lama sekali. Entah sudah berapa kamar cottage yang kami lewati tapi kamar kami tidak sampai-sampai dan ternyata kamar kami berada di puncak paling atas bukit ini. Rasanya lelah sekali tetapi saat kami sampai view yang menyambut kami sedikit meringankan rasa lelah, sunset di depan pintu kamar. Apa lagi bisa kamu harapkan? Walaupun membutuhkan effort lagi untuk turun mencari makan dan check out besok, paling tidak ada nilai plusnya.

Niatnya sih ingin nongkrong di cafe di El Nido, tapi rasanya badan letih sekali, jadi setelah makan malam kami kembali ke hostel untuk beristirahat karena besok kami masih ada aktivitas lain yaitu Taraw Climbing dan Inland Tour yaitu mengunjungi air terjun dan pantai Nacpan di El Nido.

TARAW CLIMBING
Kami dijadwalkan untuk berangkat pada pukul 05.30 dari Tay Miloy's Inn menuju area Taraw Climbing di El Nido. Jadi paling tidak, kami harus sudah sampai di Tay Miloy sekitar 05.25 dan saya harus berangkat dari hostel Makulay Lodge sekitar jam 05.05, sudah kebayang kan saya harus bangun jam berapa? Jalanan masih sepi dan agak gelap saat kami berjalan dari Makulay Lodge ke lokasi pertemuan, tapi walaupun sepi jalanan sangat aman, hanya terdengar kokok ayam sesekali menemani kami.

Dari jadwal yang ditentukan kami molor 10 menit karena harus menunggu seorang guide lagi. Mereka memutuskan untuk menambah 1 guide lagi karena peserta ada tujuh orang. Perjalanan menuju spot awal Taraw Climbing hanya datar datar saja, melewati beberapa perumahan warga dan hutan di belakang rumah warga El Nido ini. Saat sudah berada di pertengahan hutan, track sudah mulai sulit karena ada tanjakan tanjakan kecil sehingga Ratri memutuskan untuk kembali, tidak cukup percaya diri untuk melanjutkan trip ini.
Jalur trekking sebenarnya baru kelihatan setelah kami dihadapkan pada “pintu masuk” taraw (batu) ini. Aku shock! Bagaimana tidak? Di depan kami berdiri tembok batu yang kemiringannya hampir 90° dan kami harus memanjat batu ini tanpa bantuan alat apa-apa. Untung saja saya masih dipinjami sepatu sport oleh pemilik hostel. Tour ini memang tidak ada pernah dalam itinerary awal, sehingga saya kurang persiapan. Bagi mereka yang sudah biasa, tidak ada masalah climbing dengan menggunakn sandal jepit.

Baca juga : Itinerary seminggu di Filipina

Tidak satupun dari kami yang membayangkan bahwa taraw climbing yang mereka maksud adalah seperti panjat tebing versi pendek. Jadi lebih seperti naik dan turun tebing. Kami pikir tour ini hanya seperti trekking biasa. Medannya adalah batu-batu terjal. Kita harus sangat hati hati mencari pijakan kaki di tebing yang ada, mengukur kira kira kemana pijakan kaki selanjutnya. Tentunya selain pijakan kaki, kita harus menyeimbangkannya dengan pegangan tangan sehingga kita tidak kehilangan keseimbangan.

Tapi perjuangan tidak sia-sia. Perjalanan naik yang kami tempuh sekitar 2 jam terbayar dengan pemandangan yang sangat indah. View landscape dari atas puncak tebing benar-benar sangat menakjubkan. Pemandangan kota El Nido dengan tebing tebing yang mengelilinginya serta laut yang membatasinya merupakan pemandangan yang benar-benar breathtaking.

Setelah lelah memanjat tentunya kami membutuhkan tenaga juga untuk menuruni tebing tebing batu tersebut kembali. Jadi sambil mengumpulkan tenaga, kami mengabadikan pemandangan indah di atas tebing ini kurang lebih satu jam lamanya.

Perjalanan turun sama sulitnya dengan naik. Bahkan menurutku jauh lebih sulit karena untuk medan yang berupa turunan terjal, kita harus memanjat turun dengan membelakangi arah tujuan. Tentunya untuk melakukan ini harus lebih extra hati-hati karena kita harus yakin bahwa kaki kita sudah menyentuh dasar pijakan atau apakah kaki kita mampu menyentuh pijakan. Kemudian kemana lagi kaki yang satu harus ditempatkan, dimana pula tangan harus ditempatkan. Ini seperti menggunakan tenaga, pikiran dan strategi.

Hampir semua peserta sudah kehilangan tenaga saat perjalanan pulang ini. Turunan terjal memang lebih sulit. Perjalanan turun rasanya jauh lebih lama dariperjalan naik padahal jaraknya sama saja. Perlahan tapi pasti kami akhirnya kami berhasil juga mencapai titik awal gerbang masuk. Rasanya lega sekali dan kurasakan kakiku sedikit bergetar saat memijakkan kaki di tanah datar. Tidak bisa kubayangkan bagaimana sakitnya besok otot otot kaki ini. Perjalanan turun ini memakan waktu kurang lebih 2 jam 15 menit, waktu menunjukkan pukul 11.15 pagi. Perjalanan yang sangat melelahkan tapi totally worthed.


You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar