Skip to main content
TravelNimble

follow us

Pengalaman Kurang Mengenakkan Selama Solo Traveling

Perjalanan tidak selamanya berjalan mulus mulus saja. Ada hal yang mengembirakan, pasti ada pula pengalaman yang kurang enak. Tapi itulah seninya traveling mandiri. Pengalaman pengalaman inilah yang akan memperkaya kita. Nah selama 5 bulan traveling kemarin saya juga mengalami beberapa hal yang kurang enak, tapi untungnya pengalaman yang bagus jauh lebih banyak. Ini hanya beberapa saja yang saya anggap major, sedangkan hal hal kecil lainnya tidak akan saya tuliskan karena tidak usah dalam traveling, dimanapun pasti kita mengalami hal hal yang kurang menyenangkan.

Jadi apa saja cerita yang kurang enak tersebut? Terjadi di mana saja? Baca sampai habis ya, tapi jangan malah membuat kamu takut untuk solo traveling ya.

1. Hotel yang telah saya booking di Saint Petersburg ternyata telah tutup dan saya baru tahu di hari H - RUSSIA
Selama lima hari di Saint Peterburg saya membooking hostel di tiga tempat berbeda. Malam pertama saya booking dekat dengan stasiun karena saya tiba Saint Petersburg sudah larut malam dan tidak ingin berkeliaran di kota asing. Saya pikir kotanya sudah agak sepi di jam 21.30 tapi ternyata kawasan hostel saya berada di pusat keramaian, sehingga jalanan masih sangat ramai, pantas harganya lebih mahal dari kedua hostel saya berikutnya.

Hari kedua dan ketiga saya pindah ke hostel yang berbeda yang harganya lebih murah tapi rekomendasi juga bagus. Nah pengalaman kurang enak ini datang dari hostel kedua ini.

Setelah check out dari hostel pertama, saya explore area seputaran hostel dulu. Dan seperti ada yang mendorong saya untuk menghubungi hostel kedua ini, saya pun menghubungi hostel dari fasilitas booking untuk request lower bed. Tak lama (masih untung mereka response cepat) saya mendapatkan email balasan "bahwa mereka telah tutup dan semua tamu telah di-assign ke hostel rekanan mereka". Tentu saja saya tidak terima begitu saja informasi ini. Kenapa mereka tidak ada informasi sebelumnya? Kenapa mereka tidak pernah mengirimkan email nama hostel yang baru sebelum hari H? Untung banget saya email mereka sebelum saya menuju lokasi. Nggak kebayang kalau saya tiba di hostel mereka sudah malam, terus mereka benar-benar tutup, saya harus nyari nyari hostel baru atau pasrah dengan pilihan mereka.

Untungnya nomor telephone hostel masih aktive sehingga saya bisa mengkonfirmasi hal ini dan tentunya komplain sambil mengomel ngomel mengeluarkan kekesalan saya. Singkat cerita, saya pun langsung menuju hostel rekanan mereka untuk melihat kondisi hostel. Dari luar, hostel tampak bagus, jadi aku sedikit optimis. Koridor hostel tampak bersih saat aku memasuki pintu hostel, tapi tak kutemui seorangpun di ruangan kecil yang mereka sebut "reception". Tak juga ada bell untuk memanggil sehingga aku harus teriak teriak memanggil. Seorang lelaki muda yang mengaku teman si pemilik hostel muncul dan aku pun menjelaskan kondisi bookingan hostelku. Beberapa kali ia harus menelepon si pemilik hostel untuk memastikan bookingan dan pembayaran sebelum akhirnya saya dibawa ke kamar dormitory yang ternyata berada di sebelah ruangan recepsionis.

Kamar dormitory-nya sangat tidak bagus. Lampunya tidak terang sehingga kesannya seperti suram gitu. Kasurnya sangat tipis, bedsheetnya kelihatan sudah sangat usang atau kotor? Benar benar membuat tidak nyaman. Jadi aku pun memutuskan untuk mereject kamar ini, mencari hostel lain di area ini dan menulis report ke booking.com mengenai issue yang aku hadapi dan meminta refund. Untungnya di area ini banyak hostel lain, bahkan hostel ketiga saya berada disini. Jadi saya pun booking online dan langsunh check in. Kasus refund saya ditanggapi oleh booking.com, saya hanya perlu mengirimkan email konfirmasi dari hostel sebelumnya dan juga bukti saya sudah melakukan pembayaran di hostel pengganti dan horeee, mereka refund uang saya ke kartu kredit.

Baca juga : Itinerary tiga minggu di Rusia dengan Trans Siberia

2. Menangis di Marrakesh - MAROKO
Saya tidak membooking hostel di Marrakesh melalui platform online karena seorang teman dari Indonesia kebetulan sudah stay di sebuah hostel dan menginformasikan bahwa booking langsung sedikit lebih murah. Jadi saat saya sampai saya membayar satu malam karena belum ada tanggal yang pasti kapan rencana ke Sahara.

Singkat cerita, trip Sahara direncanakan dua hari kemudian dengan beberapa teman dari hostel jadi pagip-pagi sekali sebelum sarapan, saya dan seorang roomate dari Jepang menginformasikan ke pihak hostel untuk extend 1 malam lagi dan pihak hostel pun mengiyakan. Jadi saya pun sarapan dengan santai. Sekitar jam 10 pagi, satu jam sebelum check out time, saya ingin melakukan pembayaran untuk me-secure bookingan sebelum saya keluar untuk explore kota Marrakesh. Tapi kamu tahu apa yang terjadi? Mereka tiba tiba bilang bahwa tidak ada bed kosong yang tersedia. Hanya sekitar 45 menit sebelum check out time sementara saya belum ready sama sekali untuk check out.

Kesal! Saya sangat kesal. Setelah melampiaskan emosi, mengeluarkan uneg-uneg tentang betapa unprofesionalnya mereka. Saya pun meninggalkan hostel dengan memasang muka "hostel di Marrakesh bukan hostel ini saja, aku bisa mendapatkan hostel yang lebih baik, so jangan belagu." Untungnya seorang teman membawa saya ke hostel yang lumayan bagus di daerah Djema El Fna.

Tidak ingin ribet mencari hostel baru lagi sepulang dari Sahara trip saya pun membooking hostel ini lagi 1 malam langsung ke recepsionist agar saya juga bisa meninggalkan backpack besar saya. Saya menawarkan untuk melakukan pembayaran tapi mereka menolak dan mengatakan "it is okay, you can pay later". So tanpa ada firasat buruk saya pun berangkat. Tapi saat saya tiba, kasus di hostel pertama muncul lagi.

Saya tiba di hostel sekitar jam 9 malam, sudah membayangkan akan mandi dan tidur dengan nyaman malam ini. Tapi saat sampai di hostel mereka bilang hostel penuh dan akan mencarikan hostel yang baru. Tentu saja saya mengomel, melampiaskan kekecewaan saya. Lalu mereka pun sibuk menelepon sana sini mencari kamar kosong buat saya sementara saya duduk menunggu.

Amarah, kekesalan menguasai saya. Kurasakan mataku mulai berair dan saat mereka menyampaikan bahwa mereke menemukan hostel tetapi harus jalan sekitar 15 menit, tangis saya pun pecah. Saat itu yang saya pikirkan adalah, kenapa hal ini terjadi untuk kedua kalinya, berturut turut pula. What was wrong?? Dari awal saya harus mengumpulkan semua keberanian untuk ke negara ini, dan baru beberapa hari disini kenapa saya harus mengalami hal ini?

Mungkin mereka menjadi kasihan atau takut akhirnya mereka menawarkan 1 bed di lantai 2 yang menurut mereka, tamu itu tidak jadi check in malam ini tapi akan sampai besok pagi. Dengan masih terisak isak aku meminta mereka mengantarkan saya ke hostel pengganti karena saya tidak mau mengambil hak orang lain. Tapi mereka insist bahwa saya tidak mengambil hak orang lain, jadi dengan pasrah saya pun dibawa ke lantai 2, kamar dormitory dengan 6 bed yang sangat kecil. Tapi saya sudah tidak ada pilihan, saya sudah terlalu lelah untuk complain ataupun pindah hostel. Biarlah 1 malam saja, besok saya akan pindah hostel lagi.

Baca juga : Dua minggu di Maroko, kemana saja?

3. Verbal Sexual Harrasment di Marrakesh - Maroko
Saya sih menganggapnya "aneh dan geli", tapi saya aware hal tersebut bisa dikategorikan sebagai sexual harrasment. Saya ingin naik bus ke Essaouira dari Marrakesh. Dan menurut informasi sebaiknya membeli tiket 1 hari sebelumnya agar kebagian seat dan kita tidak perlu menunggu lama di terminal karena tujuan ini biasanya cepat terjual. Jadi saya pun ke terminal untuk membeli tiket karena website pembelian online tiket supratour ini tidak bisa digunakan, tapi saya salah bus terminal. Seharusnya saya langung ke Supra bus terminal dekat train station tapi saya malah ke terminal bus umum.

Sudah kepalang sampai, saya pun iseng melihat lihat siapa tahu ada option lain selain Supratour atau CTM. Nah kalau bus CTM bisa dibeli disini ataupun online melalui website mereka tapi katanya bus supratour lebih bagus, makanya saya pilih supratour. Begitu masuk terminal langsung banyak agent (atau calo) yang menawari tiket tapi tidak seagresif yang saya bayangkan. Saya duduk di kursi yang disediakan sambil memperhatikan sekeliling. Seorang pria separuh baya menawarkan tiket ke Mt Atlas. Dengan sopan saya menolak. Masih tanpa lelah ia menawarkan tiket lainnya dan saya pun tak bosan menolak. Ia terdiam dan sepertinya memperhatikan saya yang tentunya bisa saya rasakan. Tak lama, keluar lagi kata kata dari mulutnya. "Mount Atlas. I give you free. Can go with me. I have big you know". Kamu mengerti kan apa yang dia maksud BIG itu? Bukan amarah yang timbul tapi perasaan aneh dan geli. Segera kutinggalkan dia, mempercepat langkah kakiku sambil berusaha menyimpan senyum geli.

4. Scammer di Djema El Fna - Maroko
Sebagai female solo traveler sebisa mungkin scam scam di masing masing negara kita ketahui. Di Maroko ini pun sudah banyak yang saya dengar khususnya perempuan perempuan yang akan menawari memasang henna di tanganmu dengan sedikit memaksa. Kejadian ini bukan terjadi pada saya, tapi pada seorang teman dari negara lain yang kebetulan pada saat kejadian saya sedang bersamanya.

Kami memutuskan membeli juice yang berada di square Djema El Fna ini. Pada saat saya selesai mengorder juice, saya melihat dua perempuan sudah memegang tangan teman saya dan memulai membuat henna. Saya tanyakan ke teman saya, berapa biayanya. Dengan lugunya dia menjawab "sukarela". Saya sih sudah menjelaskan rasanya tak mungkin ada "sukarela" disini. Tapi nasi sudah jadi bubur, kedua perempuan tersebut begitu pintar memuji dan membuat komunikasi yang sangat baik dan kebetulan teman saya ini memang baik dan friendly banget dia tidak curiga sama sekali. Yang satu sibuk memasang henna, yang satu lagi ikut meramaikan suasana. Begitu ia memegang tangan saya ingin mengambar henna, saya langsung tepiskan sambil berkata "NO". Apakah mereka berhenti begitu saja? Tidak! Mereka akan tetap berusaha sampai sedikit nada tinggi keluar dari mulut saya baru ia berhenti berusaha.

Sekian menit akhirnya proses pemasangan henna selesai dan si ibu tersebut langsung mengambil photo dan bilang "biasanya kalau lukisan henna seperti ini harganya segini (sambil menunjukkan photo lukisan henna di tangan dengan tulisan 500 dirham)". Mulai lah drama
dimulai. Teman saya ngotot mau memberi 30 dirham saja karena perjanjian adalah "sukarela". Tapi begitu duit diberikan, dilempar dong itu duit sambil ngomel ngomel "I show you the price already. 30 dirham is nothing".

Teman saya pun kesal sampai mau dilaporin ke polisi, si ibu tetap ngotot sambil berteriak lebih kencang. Orang orang di sekitar mulai memperhatikan kita, teman saya pun mulai terisak. Tak ingin menjadi pusat tontonan, saya pun mengambil 50 dirham yang ada di tangan teman dan memberikan kepada kedua ibu itu dan menyuruh mereka pergi, untunglah mereka mau pergi.

Seorang anak perempuan kecil mendekati dan menyodorkan tissue ke teman saya, reflek teman saya mengambil dan mungkin sadar ia punya tissue, tissue tersebut pun dikembalikan ke anak perempuan kecil tadi dan diterima. Tapi tiba tiba seorang anak lelaki yang kelihatan lebih tua, menarik kasar si anak perempuan sampai terjatuh dan menunjuk nunjuk tissue. Si kakak laki laki pun mulai memukul si anak perempuan kecil tadi hingga orang orang pun marah ke si anak lelaki dan menolong si anak perempuan. Apa yang terjadi ya? Si penjual juice akhirnya memberikan 1 dirham ke anak lelaki tersebut sambil ngomong sesuatu. Sambil tetap mengomel ke anak perempuan kecil tersebut ia pun pergi. Dan akhirnya si penjual juice menjelaskan bahwa si anak lelaki itu marah karena tissuenya dikembalikan dan si anak perempuan itu mau. Aneh juga ya, kan teman saya tidak jadi mengambil, seharusnya tidak apa apa dong ya. Tapi ya itulah, Djema El Fna menarik tapi banyak drama disini, jadi hati hati ya.

3. Berantem di Souk Marrakech - Maroko
Tidak bisa dibilang berantem sih, lebih kepada "adu makian". Tahu dong kalo souk di Marrakesh ini sangat menarik untuk diabadikan dengan camera. Tapi kita harus hati hati karena kadang mereka akan minta bayaran bahkan ada yang jelas jelas nulis, sekali jepret sekian dirham.

Jadi kita menemukan toko karpet yang bagus buat photo, teman saya yang baik dan bermulut manis minta ijin untuk photo disana dan dikasi ijin dong. Photo lah kita ya. Selesai photo, seorang laki laki mendekati kita dan bilang "There is another one, it is more beautiful. You can take photo for free" Kita bilang "No" sambil terus berjalan sambil photo sesekali dan dia tetap mengikuti kita sambil menjaga jarak. Sampai akhirnya kita tiba lah di tempat yang ia maksud "you can go inside. it is very beautiful inside".

Kepo juga akhirnya dan kami pun masuk. Baru mau ngeluarin kamera handphone seorang petugas dengan tampang kurang ramah menunjukkan pengumuman "no photograph". Kami pun tersenyum dan langsung keluar, ah ditipu nih kita. Awas kalau minta bayaran. Untungnya sih tidak. Dia menawarkan lagi "another place? beautiful" Kaga tahu kali ya dia kita kesal masih nawarin yang sama pula. "NO" jawabku ketus, soalnya udah tahu arahnya nih orang. "Want to buy argan? Original. I can show the place" sambungnya lagi. "No, I know the place" jawabku lagi. Mukanya sebel gitu ngelihat aku, sambil berjalan ia ngomong "You know everyplace, everything. Fu*k you!" Mulutnya pengen disambalin nih anak. Aku jawab nggak mau kalah "of course I am. Fu*k you!" Ia berjalan menjauh sambil mengomel, untung nggak ngikuti lagi. Padahal deg degan sih pas ngumpat begitu hahahahhaha.

Paling banyak cerita yang kurang mengenakkan itu di Maroko ternyata. Selain itu ada juga issue issue kecil lainnya. Tapi walaupun ada kejadian kurang mengenakkan, tidak membuat aku jera tentunya, hanya menjadi bumbu perjalanan. Membuat kita lebih mawas diri dan lebih mengerti arti sebuah perjalanan.

Kamu punya cerita kurang mengenakkan apa selama perjalanan?

You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar