Skip to main content
TravelNimble

follow us

Itinerary Lima Bulan Arround The World, Tiga Benua dan 16 Negara

Proud of myself! Trip Arround the World saya akhirnya berakhir, tanpa kesulitan yang berarti. You DID it, Putri! Setelah 141 hari meninggalkan Indonesia, akhirnya saya pulang membawa segudang cerita, pengalaman dan beratus ratus photo dan video yang memenuhi memory card dan tentunya kenangan. Sebagai panduan dan bahan referensi, saya menuliskan trip report dan itinerary lima bulan around the world, mengunjungi tiga benua yaitu Asia, Eropa dan Afrika. Dalam 141 hari tersebut (kurang lebih 5 bulan) saya berkesempatan mengunjungi 16 negara dan lebih dari 30 kota.

Jika dipikir pikir, rasanya sangat mustahil seorang anak kampung dari latar belakang keluarga yang jauh dari kata kaya seperti saya ini bisa melakukan trip panjang 5 bulan ini. Tapi percayalah, jika kita punya kemauan dan berjuang untuk itu, maka kita pasti bisa melakukannya. Jadi jangan selalu berpikir bahwa orang yang traveling itu selalu memiliki uang yang berlimpah.

Tentu saja traveling itu butuh dana, tapi jika kita mengerti caranya, biaya traveling bisa diminimalkan. Yah, ada sih yang traveling dengan dana yang lumayan banyak, tetapi ada juga yang dananya sangat tipis, seperti saya ini-lah contohnya. Tapi walaupun tipis, jangan sampai minta-minta di negara orang ya, menurut saya hal ini kurang etis.

Itinerary selama trip around the world ini sangat flexible walau sebelumnya saya telah membuat rencana traveling jangka panjang ini. Tetapi kenyataannya tidak semua rencana itu bisa dieksekusi. Ada kota yang saya kunjungi tetapi tidak ada dalam rencana perjalanan, ada juga kota yang batal saya kunjungi walaupun ada dalam rencana perjalanan. Tidak usah terlalu ngoyo-lah. Bagi saya rencana dibuat hanya sebagai pemandu agar saya tahu arah perjalanan, yang harapannya bisa membantu menghemat biaya transportasi antar kota/antar negara.

Jadi kemana saja saya selama 5 bulan arround the world ini? Nih saya sharing garis besar itinerarynya dan beberapa rangkuman singkat mengenai negara tersebut.

1. SINGAPORE (ASIA) - 2 HARI
Saya sudah beberapa kali ke negara ini, jadi tidak ada yang terlalu special. Hanya saja spot spot wisata untuk dikunjungi di negara ini semakin banyak dibanding beberapa tahun lalu. Flight saya di hari ketiga berangkat sangat pagi, jadi malam kedua saya menginap di airport. Di escalator saya bertemu dengan seorang traveler dengan backpack yang sangat besar, bahkan jauh lebih besar dari saya. Ternyata tujuannya sama dengan saya, menginap di airport. Jadi kita pun memutuskan untuk berjalan bersama sama, ya lumayanlah ada teman mengemper di airport. Dia seorang traveler dari Taiwan yang baru menyelesaikan working visa di Australia dan akhirnya pulang ke Taiwan.

2. CHINA (ASIA) – 24 HARI
Trip di China ini lebih banyak mengexplore bagian barat China, dimulai dari Guangzhou dan berakhir di Beijing. Saya explore bagian barat bukan berarti di timur China tidak ada yang menarik, pertimbangannya lebih kepada biaya transportasi agar tidak terlalu tinggi dan kebetulan kebanyakan kota yang ingin saya kunjungi sebagai trip perdana di China berada di sisi barat. Mungkin nanti kalau ada rejeki lagi saya bisa traveling ke sisi timur China atau bagian China yang lain.

Hostel di China cukup murah, penginapan saya selama 24 hari di China ini sekitar IDR 80.000 – IDR 150.000. Hostel yang saya tinggali rata rata bersih. Ada beberapa hostel yang tidak menerima orang asing, jadi baca benar benar informasi yang ada di platform yang kami gunakan ya.

Baca juga : Detail Itinerary 24 Hari Di China

Makanan di China tidak terlalu mahal, rasanya pun masih cocok di lidah kita. Bagi saya makanan di China ini lebih cocok di lidah dibanding makanan di Taiwan. Porsi makanan khususnya jenis mie lumayan banyak, jadi kalau tipe yang makannya sedikit kaya saya, kamu bisa bawa wadah untuk dibungkus.

Selama 24 hari di China, hampir 90% saya menggunakan kereta sebagai transportasi antar kota. Beberapa kota seperti Fenghuang tidak bisa diaccess dengan kereta, maka pilihannya cuma naik bis. Sementara untuk transportasi lokal di China adalah bis dan metro. Tapi metro hanya tersedia di kota kota besar seperti Beijing, Guangzhou dan beberapa kota lainnya. Di beberapa kota besar di China, bis sudah menggunakan dual language yaitu Chinese dan Inggris. Percaya atau tidak, biaya yang saya keluarkan di China kurang dari 10 juta rupiah.

3. RUSIA (EROPA & ASIA) - 20 HARI
Sebenarnya agak bingung Rusia ini tepatnya berada di benua apa, karena sebagian Rusia berada di benua Eropa dan sebagian lagi berada di benua Asia. Itinerary saya di negara ini fix, persis sama dengan itinerary dalam visa support yang dilampirkan ke kedutaan Rusia. Selain karena hostel yang saya booking sudah semuanya dibayar, saya lebih cari aman karena informasi mengenai visa support dan visa register di Rusia ini masih simpang siur.

Trans Siberia! Yes, saya mengexplore Rusia dengan mengambil rute Trans Siberia yang dimulai dari Irkutsk dan berakhir di Saint Peterburg untuk menghemat biaya. Biasanya orang orang mengambil rute Trans Siberia ini dimulai dari Beijing ke Mongolia dan Rusia (Trans Mongolia) atau Beijing ke Vladivostok dan Rusia (Trans Manchuria).

Baca juga : Itinerary tiga minggu di Rusia dengan Trans Siberia

Hostel di Rusia cukup murah, mulai dari IDR 60.000, hanya di Okhlon yang harga hostel saya yang lumayan mahal karena pilihan tidak banyak dan saya datang di musim autumn yang sudah sangat dingin di Rusia. Makanan di Rusia tidak terlalu murah, mulai dari IDR 50.000. Kalau beli di supermarket seperti SPAR sedikit lebih murah tapi porsinya tidak banyak. Tapi kalau cuma soup dan roti bisa sih Cuma bayar sekitar IDR 35.000,-

Orang Rusia terkenal cuek, memang benar sih. Traveler lokal yang saya temui di hostel pun terkesan lebih cuek, berbeda dengan traveler dari Eropa, Amerika atau Asia yang saya temui di negara/kota lain. Tetapi walau begitu, mereka helpful kok kalau kita meminta bantuan.

4. EROPA – 60 HARI
Dimulai dari Tallinn-Estonia, saya memulai trip Eropa kearah selatan Eropa. Hampir 50% waktu saya di Eropa dihabiskan di negara negara Balkan. Negara yang paling mahal yang saya kunjungi adalah Perancis, Italy dan Austria tapi untungnya di beberapa negara tersebut saya mendapat host dari Couchsurfing jadi sedikit menghemat biaya penginapan.

Transportasi antarkota/negara yang saya gunakan di Eropa kebanyakan bis karena harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan kereta apalagi harga kereta di Eropa akan lebih murah jika dibooking jauh jauh hari. Dan karena itinerary saya yang flexible tentu saja hal ini tidak bisa saya lakukan. Tetapi khusus untuk transportasi udara, saya membooking jauh jauh hari untuk mendapatkan harga promo. Penerbangan di Eropa yang saya gunakan adalah budget airline, Ryan Air. Masih banyak budget airline di Eropa selain Ryan Air, tetapi saat saya di sana airline, ini yang memberikan harga yang paling kompetitif.

Selama 60 hari di Eropa, saya mengunjungi Estonia, Lithuania, Latvia, Slovakia, Budapest, Yunani, Italia, Republik Ceko dan Perancis. Negara yang paling saya sukai? Budapest, Yunani dan Italia. Kalau ditanya “why”? Akan sangat sulit menjawabnya. Karena ini seperti jatuh cinta, yang tidak kamu tahu kenapa kamu mencintainya.

Untuk menghemat biaya di Eropa khususnya Eropa Barat bisa mencari host di Couchsurfing, tapi ingat ya Couchsurfing ini bukan “hostel gratis”. Jika kamu tidak mampu menyisihkan uangmu, paling nggak sisihkan waktumu untuk hostmu.

Biaya makan di negara negara Balkan termasuk murah untuk kategori negara Eropa. Dengan 7-10 Euro sudah bisa makan cantik di restaurant atau dengan 3-5 Euro sudah bisa makan steak ala ala yang tidak kalah enak di central market. Kalau di Eropa Barat? Saya lebih sering beli makanan dari convenient store atau roti atau sandwich yang harganya rata rata 3-7 Euro.

5. MAROKO (AFRICA) – 14 HARI
Maroko saya sisipkan ditengah kunjungan saya ke Eropa karena tiket ke Maroko dari Eropa jauh lebih murah dibandingkan terbang langsung dari Indonesia. Saya masuk ke Marrakesh, Maroko dari Praha, Republik Ceko dan terbang dari Fes, Maroko ke Marseile, Perancis.

Baca juga : Itinerary Dua Minggu di Maroko

Khusus kunjungan ke negara ini, saya mengumpulkan seluruh keberanian untuk terbang ke Maroko. Pastinya kamu sudah membaca rencana perjalanan trip panjang ini, dimana saya menjelaskan kenapa saya sedikit lebih kuatir untuk traveling di Maroko. Selain para lelakinya lebih genit dibandingkan negara lain khusunya negara negara yang pernah saya datangi, disini masih banyak scam plus banyak orang yang akan berpura pura untuk menolong menunjukkan arah dengan meminta bayaran. Dan saya jelek dengan navigasi, jadi agak worried dengan hal ini apalagi hostel biasanya berada di jalan jalan kecil yang berliku liku begitu juga jika kita ingin mengexplore souk (pasar).

Harga hostel di Maroko yang saya booking rata rata IDR 100.000/malam, ada yang termasuk sarapan ada juga yang tidak. Bagaimana dengan makanan? Harga makanan di restaurant restaurant kecil mulai dari IDR 80.000/porsi dan kadang kadang mereka memberikan diskon bagi traveler Asia. Jadi walaupun sudah ada fix price di menu (khususnya di area tourist), sebaiknya ditanyakan kalau ada diskon. Mau makanan lebih murah juga banyak. Panini bisa didapatkan dengan harga sekitar IDR 15.000 atau soup dengan roti cukup membayar IDR 15.000 – IDR 20.000,-

Transportasi antarkota di Maroko ada kereta dan bis, tapi selama di Maroko saya tidak pernah menggunakan kereta. Menurut informasi salah seorang traveler yang saya temui di Fes, ada kereta cepat yang harganya mirip mirip dengan harga bis dengan jarak tempuh setengah dari jarak bis, tapi saya lupa tujuannya kemana, mungkin kamu bisa browse di internet. Di Maroko saya menggunakan bis dari Supratour dan CTM tetapi sempat beberapa kali juga naik bus lokal. Supratour merupakan bis yang paling nyaman menurut saya, tapi sayangnya tidak bisa dibeli online, harus datang langsung ke counternya/terminal. Sedikit merepotkan sih, apalagi disarankan untuk booking/beli 1 hari sebelumnya karena 80% tourist menggunakan bus ini.


6. TURKI (ASIA) – 20 HARI
Januari bukan waktu yang tepat untuk mengunjungi Turki karena cuaca yang dingin dan curah hujan yang tinggi. Tetapi jika kamu mengincar salju, datanglah di bulan ini. Selama 20 hari mengexplore Turki, saya selalu menggunakan bis sebagai alat transportasi antarkota. Selain bis, sebenarnya kereta juga ada, tetapi hanya tersedia di beberapa kota tertentu. Pesawat juga bisa menjadi pilihan jika waktu tidak terlalu banyak atau tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama di bis. Jika tiket pesawat domestik dibooking jauh jauh hari, harganya bisa sama dengan harga bis.

Range harga hostel di Turki mulai dari IDR 120.000,-, dengan harga ini kamu sudah bisa mendapatkan hostel yang lumayan bagus untuk menginap. Mau lebih nyaman? Alokasikan dana yang lebih maka kamu akan mendapatkan private room. Selama 20 hari di Turki saya hanya menginap sekitar 8 hari di hostel, selebihnya menginap di bis dan Couchsurfing.

Banyak yang bilang para pria di Turki ini sangat genit, tetapi menurutku tidak terlalu sih, apalagi aku sudah lulus dari “Maroko”. Mereka aku consider orang yang ramah, yah walaupun memang beberapa mereka akan menyoba merayumu, tapi menurutku masih dalam batas yang normal. Laki laki mencoba merayu perempuan menurutku dimana mana sama saja.

Untuk kelas restaurant kecil, harga makanan di Turki ini hampir sama dengan di Maroko tetapi fasilitasnya lebih menarik di Turki. Interior restaurant dan café café di Turki ini sangat menarik dan cantik. Mencari makanan lebih murah? Jangan kuatir, banyak pilihan juga kok seperti sandwich, panini dan lain lain. Dan satu lagi, bagi kamu pencinta Starbuck, harga minuman disini lebih murah dibanding Indonesia lo.

7. MALAYSIA (ASIA) – 1 HARI
Pesawat Singapore Air yang saya tumpangi mengharuskan saya untuk mengunjungi Malaysia karena penerbangan murah dari Turki hanya ke negara ini. Dan lebih aneh lagi, udah jelas jelas SQ itu airline-nya Singapore, tetapi penerbangan Turki ke Singapura malah jauh lebih mahal.

Karena barang bawaan yang banyak, lebih dari tiga kali lipat pada saat berangkat, membuat malas untuk keluar airport. Jadinya seharian saya di aiport. Dari KLIA saya naik skytrain ke KLIA2 dan menghabiskan waktu di KLIA2. Sebelum kembali ke KLIA untuk terbang ke Medan, saya menyempatkan mandi di KLIA2 yang menyediakan kamar mandi yang dilengkapi dengan shower room.

Selama traveling lima bulan ini, saya bertemu dengan banyak traveler yang melakukan perjalanan jangka panjang dari berbagai negara.
Masing masing traveler memulai perjalanannya dengan budget yang berbeda beda. Ada yang traveling selama 7-8 bulan dengan budget 7x lipat dari saya, ada yang 3x lipat. Ada juga yang traveling cuma 2 minggu - 1 bulan tapi budgetnya 2-3x lipat. Macam macamlah pokoknya.

Kebanyakan traveler jangka panjang yang saya temui berasal dari Eropa dan US. Tidak begitu banyak traveler dari Asia khususnya solo female traveler yang saya temui. Jadi saat saya mengatakan saya akan traveling kurang lebih 5 bulan pada teman teman Asia di hostel, mereka akan berdecak “woow” dengan raut muka kagum. Saya paham persis apa yang mereka rasakan. Karena saya juga [pernah di posisi mereka. Bahkan sampai sekarang. Saat saya ketemu traveler lain yang traveling selama 1 tahun, 2 tahun atu lebih saya masih tetap seperti itu kok. Akan selalu ada orang yang lebih dari kita yang bisa dijadikan sebuah movitasi dan ada juga orang yang kurang dari kita dan semoga kita bisa menjadi motivasi bagi mereka. So jangan menyerah, jika saya bisa, kamu pasti lebih bisa.

You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar