Skip to main content
TravelNimble

follow us

Sulitnya Menemukan Hostel di Guangzhou Tanpa Internet

Saya sudah menginstall beberapa VPN, tetapi entah kenapa saat saya menggunakannya untuk mencari rute ke hostel, google map saya tidak bekerja, membuat saya sedikit frustasi. Untungnya di dalam stasiun metro, terdapat map yang ada bahasa Inggrisnya sehingga saya menggunakan map tersebut untuk menentukan exit yang harus saya ambil.

Disaat seperti ini saya sangat bersyukur tadi sempat mengambil Guanzhou map di bandara, walaupun menurut saya map ini kurang detail. Saat saya ragu arah yang harus saya ambil, saya menunggu dan mencari orang yang tampaknya bisa berbahasa Inggris, paling nggak tampangnya kaya anak kantoran atau anak kuliahanlah.

Pertolongan pertama datang dari 2 orang pria muda yang kelihatannya pekerja kantoran, kebetulan saya sedang berada di sebuah persimpangan yang membingungkan saya. Dan dengan bahasa Inggris seadanya, dicampur dengan bahasa isyarat mereka menunjukkan arah yang harus saya ambil. Dari komunikasi seadanya ini, yang saya mengerti adalah saya harus berjalan lurus dari persimpangan dimana saya berada, kemudian setelah 2 persimpangan selanjutnya saya harus berjalan lurus dan belok kanan. Tetapi saat saya berada di persimpangan ke-2, nama jalan yang ditunjukkan di map offline saya dan petunjuk jalan di persimpangan tersebut membuat saya bingung, apakahkah saya salah mengerti informasi dari kedua pemuda tersebut?

Saya memutuskan untuk belok kanan, tapi setelah menemukan persimpangan jalan berikutnya saya sadar saya salah, karena petunjuk nama jalannya berbeda dengan arah yang saya cari. Saya pun balik kanan 180 derajat. Di saat saya masih sibuk mencari alamat hostel, tiba tiba hujan turun dengan derasnya. Pekerjaan semakin berat.

Dibawah payung dan raincover yang melindungi kedua tas saya dari curahan hujan, saya tetap melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan 15 menit saya menemukan persimpangan lain dan petunjuk jalan lain dan saya pun tersadar bahwa saya salah arah lagi. Kembali saya putar arah, dan berhenti agak lama di sebuah hostel yang kebetulan nama hostel ini juga terdapat di google offline saya. Seharusnya dari hostel ini lokasi hostel saya tidak jauh, tapi saya tidak menemukan arah bagaimana saya bisa menemukan alamat hostel ini.

Setelah melanjutkan perjalanan sekitar 10 menit, saya menemukan seorang penolong. Seorang laki laku muda yang mungkin bingung menjelaskan bagaimana cara menuju hostel saya. Ia pun mengantarkan saya ke arah hostel. Dan kau tahu, lokasi hostel ini tidak jauh dari persimpangan pertama yang saya mulai kehilangan arah. Dan sepertinya saya baru mengerti, mungkin maksud dari kedua pemuda pertama adalah bukan belok kanan, tapi di sebelah kanan. Setelah 30 menit berputar putar, akhirnya saya pun bisa membaringkan tubuh yang lelah.

Sebenarnya waktu masih menunjukkan pukul 2 siang saat saya selesai check in, tetapi rasa lelah lebih menguasai saya sehingga saya pun tertidur sampai sore. Malamnya saya makan keluar di daerah Ximenkou Square dengan seorang roommate dari Korea yang fasih berbahasa Chinese. Makanan yang kami order lumayan enak dan murah, Cuma sekitar 18 Yuan. Saya merasa lidah saya sedikit cocok dengan masakan di sini dibandingkan dengan di Taiwan.

You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan topik postingan. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar