Skip to main content
TravelNimble

follow us

The Nice Stranger, Acropolis Athens

Saya pernah melihat photo Acropolis di internet dalam balutan cahaya, cantik. Jadi saya pun memutuskan untuk mengunjungi Acropolis sore hari dan menunggu sampai sunset. Sampai disana sekitar jam 16.30 sore dan Acropolis sudah ditutup untuk pengunjung, gate dibuka sampai jam 15.45 saja ternyata.

Di dekat pintu masuk Acropolis terdapat bukit batu yang bisa kita daki untuk melihat pemandangan kota Athens dari ketinggian dan juga Acropolis. Nah, di tempat inilah kita bisa mengabadikan Acropolis dalam balutan cahaya. Untuk menuju ke atas bukit batu, sudah dibuatkan tangga, sedikit terjal tapi tidak jauh kok. Menurut saya tantangan sebenarnya adalah di atas bukit batu tersebut, apalagi karena habis hujan, pijakan menjadi sedikit agak licin.

Saat saya sampai, tempat ini sudah mulai ramai dengan pengunjung, mengabadikan photo atau sekedar duduk duduk menikmati pemandangan. Saya pun tentunya tidak mau ketinggalan, mengambil photo dari beberapa angle, berharap akan menghasilkan photo yang sangat menarik.

Baca juga : Itinerary 10 hari di Yunani

Waktu pun berjalan, langit sudah mulai gelap, satu demi satu pengunjung mulai turun. Saya ragu antara menunggu lampu lampu menyala atau pulang ke hostel, karena agak takut juga kalau harus berjalan malam hari di tempat yang agak sepi seperti ini. Lalu mataku pun terpaku pada sosok seorang laki laki yang sedari tadi duduk diam ditempatnya, memegang tripod. Dan aku yakin pasti dia sedang menunggu “the light on” untuk mengambil photo.

“Halo”, aku mencoba memanggilnya dari belakang tapi sepertinya dia tidak aware kalau aku sedang berusaha memanggilnya. Ia tidak bergeming.
“Hai, are you waiting for the light on”, aku kembali bertanya. Dan kali ini sepertinya dia sadar kalau aku berbicara kepadanya karena ia menoleh kearahku, sambil tersenyum ia menjawab “Yes”. Singkat dan padat.
“Can I follow you down later? I am afraid if it is too dark?”, tanyaku kembali. Mungkin ia bingung, ini cewek takut tapi keliaran ampe malam. “Yes, sure”. Jawaban singkat lagi, tapi cukup membuatku nyaman, dan membiarkan ia sibuk dengan kamera dan tripodnya. Aku pun sibuk mencoba mengambil photo dengan handphone dan tentunya tripod kecilku.

Waktu berlalu, acropolis mulai memancarkan cahaya tetapi orang orang sudah sangat sepi. Paling di atas bukit batu ini hanya kami berdua yang tetap pada posisi masing masing, sementara beberapa pengunjung datang dan pergi, sampai 3 orang laki laki datang duduk di sekitarku.

Awalnya aku pikir teman temannya ingin mengambil foto, karena salah seorang dari mereka duduk di sisi depanku sementara yang dua orang ada di samping dan belakangku, tapi ternyata tidak. Hal ini membuatku sedikit tidak nyaman, sehingga segera aku ambil tas ransel yang ada di lantai batu, duduk mendekati pria yang menjadi teman pulangku nanti, yang masih sibuk dengan cameranya. Aku tak memperhatikan lagi apa yang ketiga lelaki itu lakukan, tapi dari tempatku duduk terdengar mereka bernyanyi nyanyi.

Ia sibuk mengambil foto acropolis, aku pun mencoba dengan handphone walaupun hasilnya tidak maksimal, paling nggak aku punya kesibukan juga. Mungkin setelah kurang lebih setengah jam, laki laki tersebut mulai membereskan tripod dan kameranya dan kami pun mulai menuruni lereng batu tersebut meninggalkan ketiga lelaki tersebut di puncak batu tersebut. Dan dengan sabar ia menunggu dan membantuku, such a great guy.

Seperti dugaanku jalanan sudah sangat sepi dan sedikit gelap, untung aku membajak dia untuk pulang bareng dan untungnya lagi hostel kami sama sama di daerah Monastiriki. Kami melalui jalan yang berbeda dari jalan saat aku sampai di Acropolis, katanya sih lebih dekat dan ternyata benar, jauh lebih dekat daripada saat aku mengambil rute Monastiriki Acropolis. Ternyata pria ini berasal dari New Zealand, sedang dalam traveling panjang, mungkin sekitar 8 bulan – 1 tahun. Dan selama perjalanan menuju Monastiriki pun kita saling bertukar cerita mengenai rute dan pengalaman masing masing.

Bisa dibilang saya memang cukup nekat, masih diluar saat hari sudah larut malam, di tempat yang tidak ramai pula. Tapi jika aku tdak bertemu dengan pria tersebut, aku akan langsung pulang ke hostel saat masih sore. Karena bagi female solo traveler kita harus lebih berhati-hayi khususnya di tempat sepi. Tapi kalau di Monastiriki, suasananya masih sangat ramai walaupun sudah sangat larut malam, tidak ada perlu dikuatirkan, kecuali copet dan orang mabuk mungkin.
Hai pria asing, thank you for your company!

You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar