Skip to main content
TravelNimble

follow us

Drama pembelian tiket kereta di Guangzhou, China

Saat saya check in di hostel, pihak hostel sudah menempelkan pengumuman akan adanya Mangkhut Typoon yang akan melanda Guangzhou pada 16 September. Saya pun memutuskan untuk berangkat ke Guilin tanggal 15 September walaupun saya baru mengunjungi beberapa tempat saja di Guangzhou.

Karena tidak mau ribet dan mengantri panjang di stasiun kereta, tiket kereta Guangzhou – Guilin sudah saya beli online, jadi tinggal di print saja di stasiun. Dalam bayangan saya, prosesnya paling seperti saat di Taiwan. Saya tiba di subway Guangzhou South Railway station 1 jam sebelum jadwal keberangkatan, seharusnya sih masih cukup waktu untuk ngeprint ticket dan menuju platform, tapi ternyata semua diluar bayangan saya.

Saat keluar dari subway, terdapat lebih dari 2 exit yang menuju Guangzhou South Railway Station dengan arah yang berlawanan. Kearah kanan adalah exit J untuk high speed train dan juga ticketing sementara kearah kiri adalah exit B,C,L dan lainnya untuk high speed dan juga ticketing. Nah bingung kan? Dengan analisa singkat saya, semakin banyak exit gate-nya maka option semakin banyak, saya pun mengambil exit yang arah kiri.

Tetapi ternyata tidak ada informasi yang jelas di setiap gate, yang ada cuma informasi departure and arrival hall. Map Guangzhou railway station yang ada di subway pun tidak membantu karena berdasarkan informasi di map tersebut exit yang seharusnya untuk menuju langsung bagian tiketing adalah T1 dan T2, tapi sekarang ditutup karena ada perbaikan. Terus saya gimana dong? Bapak polisi yang bertugas di stasiun juga tidak cukup membantu, saat saya mencoba menanyakannya, dia hanya mengeleng dan meninggalkan saya. Damn!

Saya pun memutuskan untuk mengambil exit L karena sepertinya itu yang paling dekat dengan bagian ticketing. Begitu masuk ke dalam bangunan utama Guangzhou South Railway Station, saya tidak melihat adanya counter tiket, hanya ticket checking dan mesin pembelian tiket yang hanya dalam bahasa Mandarin. Saya melayangkan pandangan ke area stasiun yang begitu luas, tetapi tidak saya temukan informasi lokasi bagian ticketing.

Saya pun mengampiri seorang security yang bertugas menjaga gate masuk ke ruang tunggu dan menyuruh saya untuk naik ke atas. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.15, saya masih sibuk mencari lift atau escalator tapi saya tidak menemukannya. Ada sih escalator, tetapi akses masuk kedalamnya itu ditutup.

Saya menghampiri seorang bapak petugas yang menjaga akses tersebut dan menunjukkan bookingan saya, dengan baik hati ia mengeluarkan handphonenya, mencari jadwal kereta dengan bahasa yang dimengertinya dan akhirnya menyuruh saya untuk naik ke lantai 3 sekaligus juga menunjukkan arah dimana saya bisa naik lift.

Sesuai dengan arahannya, saya pun menemukan lift yang dimaksud dan tepat di lift tersebut ada helpdesk yang tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi mengarahkan saya ke lantai tiga. Di lantai 3 saya pun tidak menemukan ticket office. Kembali saya menanyakan kepada petugas yang menjaga gate masuk dengan menunjukkan bookingan di handphone saya. Dia mempersilahkan saya masuk setelah mengecek data passport sdan kemudian mengarahkan saya untuk masuk ke ruang tunggu disebelah kanan.

Baca juga : Punya waktu sehari di Guangzhou, tempat wisata yang wajib dikunjungi?

Untuk masuk ke ruang tunggu, tas kita harus discan terlebih dahulu dan antriannya lumayan panjang. Sesekali orang orang local akan menerobos antrian sambil mengatakan sesuatu, mungkin meminta jalan karena kereta mereka sudah mau berangkat. Orang orang yang mengantri tampak acuh saja saat mereka menerobos, mungkin sudah biasa kali ya.

Orang orang yang sudah memiliki tiket langsung antri lagi ke dalam antrian platform, sedangkan yang belum mempunyai tiket melanjutkan mengantri di mesin tiket tidak jauh dari pos security. Sebelum ikutan antri, saya sempat mengintip orang yang berada paling depan yang sedang melakukan pembelian tiket, dugaan saya benar, mesin tersebut hanya menggunakan bahasa Mandarin. Entah kenapa saya sangat yakin bahwa saya seharusnya tidak mencetak tiket disini sehingga saya tidak ikutan antri tapi malah mencari tampang tampang yang kira kira bisa berhasa Inggris. Akhirnya saya menemukan 2 orang gadis yang sepertinya anak kuliahan dan walau dengan bahasa Inggris seadanya yang juga dibantu oleh aplikasi di handphone, mereka menyarankan saya untuk ikutan antri di vending mesin tiket tersebut.

Tak adanya guna mengantri karena saya tidak akan paham bahasanya, saya kembali mencari tampang tampang yang kayanya bisa membantu saya untuk mencetak tiket dalam antrian. Pilihan pertama jatuh pada seorang lelaki yang tinggi, pakaian rapi dan good looking (beneran, milihnya bukan karena ini kok). Dengan ramah ia meresponse dan bilang kalau saya bisa ngeprint di sini, tetapi saat saya minta tolong agar ia membantu ngeprint dia sepertinya grogi, ingin mengatakan sesuatu karena kelihatannya mikir banget, sepertinya ia tidak tahu bagaimana cara meresponsenya. Tidak ingin menambah bebannya saya pun mengucapkan terimakasih dan mencari target selanjutnya.

Dan saya menemukan seorang wanita muda, mengangguk saat saya mengatakan English sambil menjawab "little". Begitu saya minta tolong untuk mengeprint tiket saya, ia hanya bilang “ID” “ID”, saya mengerti maksudnya sehingga saya langsung bilang “passport”? Kembali ia meresponse “but I don’t know…” mungkin maksudnya dia tidak bisa membaca informasi yang tertera di passport saya, tetapi langsung saya jawab bahwa saya akan membantu dan ia pun mengangguk.

Benar seperti insting awal saya, mesin ini tidak berlaku untuk saya, mesin tidak bisa membaca data passport saya. Tidak ada jalan lain, saya harus membatalkan tiket kereta saya ini, tetapi sayangnya dari aplikasi trip.com sudah tidak bisa, jadi mau tidak mau harus mencari tiket office. Dengan bantuan petugas, saya pun keluar dari dari ruang tunggu dan langsung mencari tiket office, dan akhirnya berhasil, tapi antrian sangat panjang.

Dari informasi petugas, saya pun mengantri di antrian untuk refund tiket. Setelah mengantri kurang lebih 20 menit, petugas dari jendela ticketing mengatakan tidak bisa direfund karena jadwal kereta saya sudah lewat.
Saya pun mencoba keberuntungan saya di counter reschedule, mengantri lagi sekitar 30 menit dan ternyata bisa walaupun saya harus turun kelas (jenis keretanya beda) dan akan tiba di Guilin lebih malam, tetapi paling nggak, saya tidak kehilangan uang sekitar IDR 400.000.

Proses selanjutnya sudah sangat lancar karena saya sudah tahu lokasinya, hanya saja ruang tunggu keretanya berbeda dari yang pertama.

Lesson learn :
1. Kesalahan saya yang pertama adalah, saya bukan menanyakan dimana tiket office, tetapi dimana mencetak tiket saya,sehingga terjadi miskomunikasi dengan para petugas dan saya diarahkan ke tempat yang salah. Lain kali langsung tanya dimana tiket office.

2. Datang ke stasiun paling tidak 2 jam sebelumnya (kaya di airport ya) jadi kita punya waktu untuk mencari cari tiket office, mengantri dan masuk ruang tunggu, karena untuk masuk ruang tunggu ini kita harus mengantri dan scanning barang barang kita. Tetapi kalau di airport kecil sih satu jam sebelumnya tidak apa apa, apalagi kalau print an tiket kita sudah ditangan.

Baca juga : Kendala dalam menemukan hostel di Guangzhou tanpa internet di China



You Might Also Like:

Comment Policy: Tuliskan komentar yang sesuai dengan postingan. Komentar yang berisi link tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar